ARTIKEL

Memahami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi (Bagian 5)

×

Memahami Paradigma Pembangunan Kota Sukabumi (Bagian 5)

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Bandingkan dengan etika para orangtua kita, mereka sering menerapkan etika sederhana namun bermakna: makanan (nasi dan lauk pauk) yang ada di dalam piring harus habis dikonsumsi. Bagaimana dengan warga kota modern? Berapa kilogram sampah makanan yang dibuang dalam satu acara resepsi pernikahan?

Kita tidak memandang tindakan ini sebagai sikap konsumtif, sebagai warga kota dan manusia modern kita malah menganggapnya sebagai hal wajar dan biasa.

Bank bjb Tandamata

Gaya hidup konsumtif tanpa diiringi oleh kebijakan dan regulasi yang tepat dari pemerintah telah memunculkan fenomena ganjil yang tidak pernah ditemui sebelumnya.

Tumpukan sampah di pinggir jalan karena jadwal truk pengangkut sampah tidak sebanding dengan jumlah produksi sampah.

Masyarakat juga menjadi kurang peduli terhadap lingkungan yang dipenuhi oleh sampah, daripada menerapkan 3R apalagi harus memilih dan memilah sampah, mereka lebih kerasan membuangnya dalam satu paket kantong plastik. Apa yang akan terjadi terhadap tumpukan sampah di pinggir jalan di saat hujan turun cukup deras?

Sebetulnya, keberlimpahan sampah dapat menjadi peluang bagi pemerintah kota dalam membangkitkan UMKM yang bergerak dalam pemilahan dan daur ulang sampah. Dorongan terhadap UMKM dari pemerintah dapat dilakukan dalam bentuk peningkatan kapasitas dan inovasi pengolahan sampah menjadi sumber energi terbarukan.

Di sisi lain, UMKM yang inovatif dan mampu menghasilkan produk lokal apalagi membuat sumber energi terbarukan dapat memantik kesadaran warga untuk membeli produk dan jasa lokal daripada membeli produk yang datang dari luar.

Kampanye dengan tajuk Hargai Produk Dalam Negeri dan Aku Cinta Produk Indonesia sebenarnya sudah jauh-jauh hari dilakukan oleh pemerintah. Namun penerapannya memang harus berbanding lurus dengan ketersediaan beberapa produk dan jasa yang kompetitif atau mampu bersaing dengan produk luar.

Pembangunan sektor industri kreatif menjadi trending akhir-akhir ini. Hal ini dapat mengeliminasi gaya hidup konsumtif warga kota. Industri kreatif dapat diwujudkan dalam bentuk seni, budaya, kerajinan, dan pariwisata berkelanjutan.

Sikap serius dari pemerintah terhadap industri kreatif ini dapat membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan kepuasan warga terhadap kebutuhan yang diproduksi secara mandiri.

Perubahan dari pola hidup sederhana ke gaya hidup konsumtif hanya memerlukan waktu satu dekade saja dan untuk mengembalikannya kembali, kita memerlukan waktu lama dan keseriusan dalam membangun pola pikir serta meningkatkan kesadaran semua pihak untuk memilih menerapkan pola hidup sederhana. ***