Bergabung dengan IPB dan Kontribusi
Kesempatan menjadi dosen di IPB datang ketika formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dibuka. Imam, yang belum pernah mengikuti tes CPNS sebelumnya, mencoba peruntungannya tanpa ekspektasi tinggi.
Namun, keberuntungan berpihak padanya, ia pun berhasil lolos dalam satu kali percobaan dan bergabung dengan Sekolah Vokasi (SV) IPB di Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya.
Pemilihan Sekolah Vokasi bukan tanpa alasan. Imam melihat potensi besar dalam pendidikan vokasi, terutama karena kedekatannya dengan dosen dan teman-temannya selama studi S3.
Awalnya, ia tidak mengetahui bahwa kampus vokasi IPB terbagi menjadi dua lokasi, yakni di Bogor dan Sukabumi. Namun, keputusan memilih program ini semakin dikuatkan oleh kesempatannya untuk memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan keilmuan perikanan di Indonesia.
Tantangan dan Adaptasi dalam Mengajar
Menjadi dosen bukanlah tugas yang mudah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah mengatur waktu dengan baik serta menyesuaikan metode pengajaran dengan generasi mahasiswa saat ini.
Generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya mereka sangat akrab dengan teknologi, mudah terdistraksi, dan memiliki pola pikir yang lebih mengutamakan keseimbangan antara pekerjaan dan kesehatan mental.
Dalam menghadapi tantangan ini, Imam selalu berusaha untuk beradaptasi dengan cara kreatif, termasuk mencari metode pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.
Baginya, dosen bukan hanya sekadar pengajar, tetapi juga mentor yang harus membantu mahasiswa berkembang menjadi individu yang siap menghadapi dunia kerja.
Nilai yang Ingin Ditanamkan
Bagi Imam, keterampilan dan sikap aktif adalah kunci keberhasilan mahasiswa. Ia selalu mendorong mahasiswanya untuk tidak hanya pasif dalam perkuliahan, tetapi juga aktif berorganisasi, berkomunikasi, serta memperluas wawasan di luar kelas.
Rasa ingin tahu yang tinggi dan semangat mencari informasi di luar pembelajaran di kampus adalah hal yang menurutnya sangat penting dalam membentuk individu yang kompeten dan berdaya saing tinggi.
Ia juga mengajarkan filosofi sederhana yaitu jadilah seperti lilin yang menerangi sekeliling. Dengan berbagi ilmu dan membantu orang lain, individu dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat dan bangsa. Dengan prinsip ini, ia berharap mahasiswa yang ia didik dapat menjadi bagian dari generasi emas Indonesia pada tahun 2045.
Prestasi dan Pencapaian
Di luar dunia akademik, Imam memiliki ketertarikan pada desain grafis dan pernah menjalani magang di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta, yaitu perusahaan bernama Konsule.
Pengalaman ini memperkaya wawasan serta keterampilannya dalam mengemas informasi secara visual, yang kemudian ia terapkan dalam dunia pendidikan dan penelitian.
Melalui perjalanan panjangnya, Imam Tri Wahyudi telah membuktikan bahwa ketekunan dan kecintaan pada ilmu pengetahuan dapat membawanya meraih pencapaian luar biasa.
Kini, sebagai seorang akademisi, ia terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu perikanan serta mencetak generasi penerus yang siap menghadapi tantangan zaman.
Pesan dan Harapan untuk Generasi Muda
Imam berpesan agar generasi muda selalu bekerja dengan totalitas, baik dalam bidang akademik maupun profesional. “Ketika kamu bekerja, lakukan dengan totalitas. Mau kamu bodoh atau pintar, yang penting kamu totalitas. Kalau kamu bodoh tapi totalitas, kamu akan berkembang lebih cepat. Apalagi kalau kamu pintar,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menciptakan karya yang berharga dan bermanfaat bagi masyarakat. “Jadikan setiap pekerjaanmu sebagai branding dan karya yang bisa dinilai lebih oleh perusahaan. Jangan hanya bekerja biasa-biasa saja, karena itu tidak akan meninggalkan jejak,” tambahnya.
Dengan semangat dan dedikasi yang tak kenal lelah, Imam Tri Wahyudi adalah bukti nyata bahwa passion yang diikuti dengan kerja keras dapat membawa seseorang mencapai impiannya dan memberikan kontribusi berarti bagi masyarakat. **






