Kibang Kibut Fikiran Kita

Handi Salam

Oleh: Handi Salam
Redaktur di Radar Sukabumi

YANG paling membingungkan saat olahraga pagi adalah ketika tubuh kita mulai berkeringat dan kelelahan: berhenti atau terus, ini menjadi pertentangan dalam pikiran saya yang tarik menarik antara dua kutub itu. Keduanya menyimpan konsekuansi, tetap sehat atau sakit karena malas olahraga. Pekerjaan malam yang saya tekuni, jika tidak diimbangi dengan berolaraga mungkin akan cepat terkena penyakit.

Bacaan Lainnya

Jika malas berolahraga, daya tubuh menurun dan penyakit pasti datang dengan bersorak. Jika terus, badan kita selalu kelelahan saat siang dan malam. Tapi, saya tidak lagi ingin membalas kemalasan.

Hanya saja, saya jengkel setiap kali berusaha keras mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua perbuatan manusia bisa dinalar, tidak semua orang mampu menjaga kepala tetap dingin, dan tidak semua orang harus suka terhadap sikap kita.

Saya tidak sedang mengurui, karena sadar betul setiap pembaca punya pengetahuan berbeda-beda atas sebuah peristiwa yang sudah terjadi.

Setiap versi memiliki pendukung masing-masing, kurang lebih serupa dengan setiap agama memiliki para pemeluk yang hanya mau memercayai apa-apa yang berasal dari agama mereka.

Orang Kristen tidak mungkin dipaksa memercayai bahwa yang disembelih Ibrahim adalah Ismail, menurut mereka Ishak.

Orang Islam juga tidak mungkin dipaksa percaya bahwa yang mati disalib adalah Yesus. Menurut Islam, itu orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa.

Saya berpendapat, kita tahu memang sulit menyingkirkan agama dari wilayah politik. Saya pikir bahkan jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan membersihkan daki di punggung sendiri saat kita mandi. Bagaimanapun, harus diakui bahwa pesan-pesan sosial dan politik muncul sangat kuat di dalam teks-teks agama selain pesan-pesan untuk meningkatkan iman dan takwa.

Agama memberi tahu para bujangan, jika hendak menikah, pilihlah pasangan yang cantik atau tampan agamanya, jangan memilih pasangan karena dibutakan semata-mata oleh kecantikan atau ketampanan fisik. Teks-teks agama mengajarkan bahwa iblis berseliweran di tengah-tengah kita dalam bentuk jin dan manusia serta berupaya menyeret kaum beriman ke api neraka.

Agama juga meminta para pemeluknya waspada terhadap kaum lain; mereka adalah orang-orang yang ingin menyesatkan kita dari jalan yang benar.

Tapi saya yakin, setiap agama mengajarkan kebenaran mutlak versi masing-masing yang tak mungkin dikoreksi pihak lain. Tiap pemeluk agama, yang mengimani surga dan neraka, akan meyakini bahwa hanya jalannya yang bisa membawa orang ke taman firdaus atau tempat lain yang semacam itu.

Agama-agama besar pun bukan entitas-entitas tunggal. Dari setiap agama muncul denominasi atau rumpun-rumpun yang lebih kecil dengan keyakinan dan penghayatan yang lebih spesifik. Tiap rumpun juga akan meyakini bahwa jalannyalah yang paling benar.

Tribalisme semacam itu, kita tahu, adalah salah satu naluri paling kuat yang mengendalikan perilaku manusia. Ia melindungi kita dan memberikan perasaan tenteram bahwa kita berada di jalan yang benar. Namun, pada saat yang sama, ia bisa menghadirkan ancaman, terutama ketika kita berada dalam situasi tidak menentu yang melumpuhkan nalar.

Memang kehidupan yang lebih baik belum tentu membuat orang-orang bahagia. Tingkat kebahagiaan kita belum tentu naik ketika semua hal yang kita inginkan bisa terpenuhi. Di tingkat personal, kehidupan selalu menyediakan dramanya sendiri. Manusia bisa hancur lebih dan tidak bahagia justru ketika semua keinginannya terpenuhi.

Dalam beberapa hal, kita sedang mencicipi situasi semacam itu sekarang. Kita menjalani kehidupan bermasyarakat yang terasa mengerikan justru ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, ialah kebebasan.

Tapi ada berapa orang yang sudah bahagia saat ini tanpa memikirkan hutang dan cicilan. Dulu segalanya dibatasi.

Media bisa diberedel oleh penguasa, suara politisi ditertibkan, kritik oleh para aktivis dibalas dengan pemenjaraan.

Pada masa itu kita mengidam-idamkan sebuah era baru di mana warga negara benar-benar memiliki kebebasan. Kita merindukan demokrasi. Kita merindukan sistem yang mengizinkan kita menyuarakan apa saja tanpa perasaan terancam.

Tapi, faktanya apakah sekarang kita sudah merasa bebas dan bahagia dengan fikiran kita. Semakin bebas, semakin susah mencari kebahagian fikiran. Berapa banyak orang yang bisa tidur nyenyak pada malam hari sesuai anjuran dokter. Kehidupan malam lebih panjang saat fikiran kita terkekang oleh kembimbangan masalah.

Cocoklah saya berkata Kibang Kibut (Kacau balau red) fikiran kita berawal dari khayalan-khayalan yang belum tentu baik jika dilaksanakan. Yang terbaik hanyalah, berfikir dan berdialog dengan tuhan masing-masing sebelum menentukan sikap. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *