Green Hospitals Network di Indonesia

  • Whatsapp

Oleh: dr. H. Suherman, MKM (National Coordinator of the HPH Network of Indonesia, Mantan Direktur RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi) dan Pats Oliva (Communications Campaigner for HCWH Southeast Asia).

Ketika dunia secara berangsur mulai bangkit kembali dari dampak virus corona, maka keputusan-keputusan yang penting harus dibuat demi menentukan masa depan yang adil, manusiawi dan sehat bagi masyarakat.

Secara global, pandemi Covid-19 ini tidak hanya menunjukkan kepada kita mengenai berbagai macam kerentanan yang ada dalam sistem layanan kesehatan, tanggap darurat, sistem pemerintahan, dan juga masyarakat kita. Secara khusus pandemi ini menegaskan kembali bahwa kesehatan dan keselamatan kita (termasuk planet bumi ini) harus berada dalam garis depan dan terpusat baik secara respon maupun pemulihan.

Hal yang sangat nyata seperti di daerah yang terpinggirkan di negara-negara Asia Tenggara, di mana negara-negara seperti Indonesia sudah diguncangkan dengan masalah terkait perubahan iklim yang sudah ada sebelumnya seperti polusi udara, kerawanan pangan, kenaikan permukaan laut, dan pemanasan global.

Pemulihan yang sehat dari krisis Covid-19, yang mengarahkan setiap langkah-langkah stimulus ke arah penguatan sistem kesehatan dan perluasan industri-industri dan pekerjaan yang bersih dan berkelanjutan, akan mengurangi masalah-masalah semacam ini dan membuat ekonomi kita lebih tahan terhadap guncangan-guncangan di masa depan – baik itu pandemi atau badai tropis.

Krisis Iklim diperburuk oleh Ekspansi Batubara pada saat ini, secara umum telah diketahui bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU Batu Bara) tidak hanya menghasilkan karbon dioksida yang berkontribusi terhadap pemanasan global, tetapi juga mengeluarkan partikel, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan merkuri yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan planet bumi.

Polusi udara menyusup ke dalam organ tubuh seperti paru-paru, jantung, otak dan kulit, menghambat perkembangan bayi dan menyebabkan asma, kanker, dan penyakit lainnya. Hal ini bisa mengurangi masa hidup kita beberapa bulan hingga beberapa tahun menurut riset dalam Air Quality Life Index yang dilakukan oleh Universitas Chicago. Polusi udara di Indonesia berpotensi kehilangan 1,2 tahun harapan hidup pada tahun 2016, dibandingkan dengan harapan hidup apabila kualitas udara memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di Kota Palembang, Sumatra Selatan,usia berkurang rata-rata hingga 4,8 tahun; bahkan di Ogan Komering Ilir bisa berkurang hingga 5,6 tahun. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa efek jangka panjang dari paparan polusi udara terhadap kesehatan membuat masyarakat lebih rentan terhadap dampak terburuk dari virus-virus yang menyerang sistem pernapasan seperti Covid-19.

Meskipun risiko dan biaya kesehatan masyarakat akan polusi udara sudah jelas saat ini, dan sudah diketahui penyebabnya, dimana pada bulan Januari 2020, Indonesia memiliki PLTU batu bara dengan jumlah kapasitas 32.373 megawatt (MW) dan kapasitas 11.840 megawatt (MW) dalam pembangunan.

Berdasarkan Laporan Indonesia G20 IFFS Self-review 2019, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menargetkan pengurangan emisi sebanyak 29 persen setelah tahun 2020 yang berdasarkan pada Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC) pada Persetujuan Paris (Paris Agreement) atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Mereka juga mengalokasikan dana sebanyak USD 55,01 miliar untuk periode 2015-2019, termasuk program-program NDC dalam sektor energi, 1) energi terbarukan sebagai energi dan bahan bakar; 2) efisiensi energi; 3) energy bersih; 4) penggantian bahan bakar; dan 5) reklamasi pascatambang.

Selain itu, pengawas energi Indonesia menyebutkan bahwa peraturan pemerintah yang sudah ada mensyaratkan bahwa negara harus mencapai 17,5 persen energi campuran terbarukan pada tahun 2019 namun PLTU batu bara yang berlokasi di Banten – Jawa 7 Unit 1 (dengan total kapasitas 1.000 megawatt) telah beroperasi pada bulan Desember 2019; merusak 376 megawatt (MW) energi hijau yang sudah diresmikan pada tahun yang sama.

Covid-19, perubahan iklim, dan layanan kesehatan
Dalam masa pandemi global yang menyatu dengan krisis iklim yang sudah ada sebelumnya, ekspansi energi bahan bakar fosil di Indonesia ini berarti bahwa sebagian besar masyarakat sekarang lebih rentan terhadap virus corona dan penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan lainnya, serta akan kesulitan dalam beradaptasi dan menghadapi tantangan dari salah satu ancaman kesehatan terbesar di abad ke-21 ini.

Bencana dan wabah penyakit diketahui merusak kesehatan manusia dan mengganggu kehidupan. Hal ini menjadi tantangan bagi sistem layanan kesehatan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang pada dasarnya tidak siap untuk menghadapi pandemi akibat iklim.

Healthcare climate action sebagai bagian dari rencana pemulihan regional
Rumah Sakit Ramah Lingkungan atau Global Green and Healthy Hospitals (GGHH) merupakan sebuah jaringan internasional rumah sakit, fasilitas layanan kesehatan, sistem kesehatan, dan organisasi kesehatan yang didedikasikan untuk mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dan mempromosikan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Sebagai anggota dari Jaringan GGHH, Health Promoting Hospitals (HPH) atau Rumah Sakit Promosi Kesehatan di Indonesia turut ikut serta dengan 350 organisasi yang mewakili lebih dari 40 juta organisasi kesehatan dan lebih dari 4.500 organisasi kesehatan individu dari 90 negara yang berbeda, secara tertulis kepada para pemimpin G20 yang meminta #HealthyRecovery baik dari Covid-19 dan krisis iklim.

Pandemik yang terjadi saat ini menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan normal yang biasa kita jalani ini tidak berkelanjutan dan bersifat destruktif/merusak, dan jika terus berlanjut, di samping kurangnya solusi yang inklusif untuk krisis iklim, hanya akan menunjukan kehancuran secara permanen terhadap kehidupan manusia dan planet bumi kita.

Di bagian dunia ini, dimana masalah-masalah lingkungan dan kesehatan seperti perubahan iklim dan polusi udara menandakan ketidakadilan dalam aspek kesehatan, kurangnya infrastruktur kesehatan yang memadai, prioritas anggaran pemerintah yang tidak mencukupi, kondisi kerja yang menyedihkan, ketidaksetaraan gender, dan bahkan kerawanan pangan, ini sangat penting untuk sektor layanan kesehatan untuk menjalankan rencana pemulihan yang sehat. Artinya, menyerukan perlindungan kesehatan masyarakat melalui sebuah transisi terhadap energi terbarukan, berinvestasi dalam fasilitas kesehatan tahan iklim, menerapkan kebijakan pengadaan layanan kesehatan yang ramah lingkungan, memperkuat sistem informasi kesehatan, dan mengedukasi masyarakat tentang bahayanya kelambanan terhadap perubahan iklim.

Sebagai penutup, salah satu pesan yang muncul dari pandemi Covid-19 ini adalah perlunya untuk menyelamatkan bumi kita dari polusi buatan manusia seperti yang berasal dari industri penghasil karbon yang ekstraktif, terutama pembangkit listrik (PLTU) batu bara dan ekstraksi bahan bakar fosil. Biarkan langit tetap biru, udara tetap bersih, dan orang-orang tetap sehat. (*)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *