Tapi bisa juga ‘kasus mempertahankan Putri’ seperti itu dimaksudkan sebagai payung cadangan. Kalau ada apa-apa dengan Wardah. Masih ada Putri. Tapi yang seperti itu biasanya hanya baik kalau Putri berada di perseroan terbatas (PT) yang terpisah.”Apakah seperti itu?” tanya saya. Ternyata juga tidak. “PT nya masih jadi satu dengan Wardah,” jawab Bu Nurhayati.
Pantas Putri seperti anak tiri. Kata saya dalam hati. Saya pun yakin ini: kalau suatu saat Putri ikut maju pastilah saat itu sudah menjadi satu PT tersendiri. Punya direksi sendiri. Saya senang Bu Nurhayati kirim pesan yang lain lagi. Masih punya mimpi berikutnya: menciptakan 1.000 pengusaha baru. Melalui Wardah. Segera. Dalam lima tahun ke depan.
Lalu ada perkembangan baru. Lahirnya UU halal. Wardah akan diuntungkan lagi. Dengan lahirnya UU itu. Akan banyak kosmetik asing yang datang ke Wardah. Untuk memproduksikan bahan kosmetik halal mereka. “Kalau yang begitu saya akan terima,” ujar Bu Nurhayati. Merk asing menyerahkan resepnya. Pabrik Wardah yang membuatkannya.
Dengan demikian Wardah membantu mereka dengan produk halal. Juga mendapat bisnis. Setiap kali tulisan tentang Wardah terbit di disway Bu Nurhayati memang chat ke saya. Sebelum matahari terbit. Semula, saya kira, beliau belum tahu disway. “Sering viral kok”, ujar beliau. “Terakhir tentang profesor bersandal jepit itu,” tambahnya. “Yang menemukan inkubator gratis itu.”
Tentang Wardah ini pun, katanya, viralnya bukan main. “Saya sudah merasa kalau Pak Dahlan mau menulis. Kok sampai tanya soal sandal,” ujar Bu Nurhayati. “Pak Dahlan itu kalau lihat orang dari atas sampai sandal,” tulisnya dalam whatsapp. “Suami saya juga penggemar disway,” katanya.
Saya memang tidak mengatakan akan menulis. Saat banyak bertanya itu. Juga tidak memberi info setelah itu. Itu sebenarnya salah. Saat wawancara wartawan harus mengatakan bahwa ia/dia adalah wartawan. Saya lupa apakah Bu Nurhayati tahu/tidak kalau saya wartawan. Saya merasa ia tahu. Kalau ternyata tidak, saya minta maaf. Saya sendiri juga bingung: saya ini masih wartawan atau bukan.
(dahlan iskan)



