Ruang tunggu itu sebenarnya menarik untuk direkam. Tapi kalau saya keluarkan kamera bisa saja pembicaraan terhenti. Padahal omongan mereka lagi mencapai puncaknya: berapa miliar rupiah uang transfer mereka. Rp 2 miliar. Rp 3 miliar. Entah dari mana sumber datanya. Bedanya dengan sepakbola: uang transfer itu tidak diterima partai tempat asalnya. Namanya pun bukan uang transfer: tapi bantuan biaya kampanye.
Mereka yang pindah itu tidak takut. Partai begitu lemahnya. KPU bukan seperti FIFA. Yang bisa memberi sanksi pada bintang sepakbola. Tidak ada juga VAR. Untuk mengecek kebenaran gerak-gerik politisi itu. Mereka juga menyebut nama. Siapa dari partai di dapil mana: yang ditransfer ke partai itu. Saya belum bisa mengecek kebenarannya. Daftar calon sementara masih di KPU. Untuk diteliti. Bukan masalah transfernya. Tapi dokumen pencalonannya.
PDI Perjuangan, kata ruang tunggu itu, akan tergerus banyak. Partai Demokrat juga. Bahkan orang segarang Oso tidak bergigi: partai Hanura kabarnya kehilangan 14 caleg potensialnya. Lewat jalan pintas tadi. Heran: menjelang final piala dunia hari itu tidak ada yang tertarik bicara bola. Politik memang menggiurkan –untuk yang belum insyaf.
(dis)



