CATATAN DAHLAN ISKAN

Membangun Tanpa Menggusur

×

Membangun Tanpa Menggusur

Sebarkan artikel ini

Lalu saya ketik kata slum. Omar memasukkannya ke kamus Google. Asumsi saya: setiap kota pasti memiliki kawasan slum. Daerah kumuh. Daerah miskin. Dengan perumahan gembelnya. Di Amerika pun ada yang seperti itu. Meski tingkat kegembelannya berbeda.

Omar pun akhirnya paham. “Kita ke sana besok,” katanya. “Sekarang sudah terlalu sore. Tiba di sana sudah agak gelap. Besok saja. Biar bisa melihat dengan jelas,” tambahnya.

Bank bjb Tandamata

Sore itu kami memilih makan. Saya minta dicarikan makanan khas Konya yang paling enak. Omar membawa saya ke arah pinggiran kota. Ke arah gunung. Ia mengajak saya melewati real estate kelas atas. Yang rumah-rumahnya satu lantai. Maksimum dua lantai. “Ini kompleks palace,” katanya. Saya pun minta penjelasan apa yang ia maksud dengan palace. Yang pengertian saya adalah istana. Apakah ada istana di kawasan itu.

Ternyata orang Konya berbeda. Rumah-rumah satu atau dua lantai seperti itu disebut palace. Rumahnya orang kaya. Padahal kalau saya perhatikan biasa saja. Perumahan seperti itu banyak di Indonesia. Rumahnya dua lantai. Tanahnya sekitar 400 meter persegi.

Di Jakarta perumahan seperti itu masih dianggap kelas menengah. Belum bisa disebut palace. Di Indonesia jauh lebih banyak rumah yang justru bisa dikategorikan palace beneran. Kesimpulan saya: golongan yang terkaya di kota ini tidak seberapa kaya.

Saya pun tiba di restoran besar. Di atas gunung. Yang dari dalamnya bisa melihat seluruh kota Konya. Saya minta dipesankan masakan yang saya maksud: khas Konya. Saya puas. Makanan itu enak sekali. Omar menjelaskan nama makanan itu. Juga cara membuatnya. Istrinya bisa memasaknya. Hanya kualitas bahannya lebih murah.