Publik marah: lewat media sosial. Marah pada pemerintah. Marah pada polisi. Marah pada asisten pelatih. Media main stream tidak berani mengkritik pemerintah. Tapi media sosial terus menghebohkannya. Lebih marah lagi ketika kepala kepolisian Thailand mengumumkan ini: terus menunda penyelamatan. Akibat cuaca yang tidak memungkinkan.
Tim penyelamat Thailand sebenarnya sudah bergerak. Sempat ada yang masuk sejauh 2 Km. Sampai rongga ke-3. Tapi balik lagi. Air bah naik. Cuaca monsoon tidak kenal kasihan. Publik kian marah. Pemerintah dianggap tidak serius. Media sosial ribut terus.
Sudah lebih seminggu para remaja itu terjebak di dalamnya. Dengan segala khayalan jelek yang menimpa mereka. Seminggu tidak makan. Ada seorang penyelam Inggris yang tinggal di Thailand. Ia ikut khawatir atas kemarahan publik itu. Juga terguncang membayangkan anak-anak remaja yang terjebak di dalam gua: berhari-hari, gelap, basah, tidak ada makanan.
Penyelam itulah yang ingat ini: di Inggris ada seorang penyelam legendaris. Karena beraninya. Juga karena reputasinya. Namanya: Richard Stanton. Maka Richard pun dipanggil. Ia mengajak soulmate-nya: John Volanthen. Richard, 36 tahun, juga mengajak istrinya, 38 tahun.
Richard-John itulah yang berhasil menyelam. Pada tanggal 2 Juli 2018. Sembilan hari setelah para remaja itu terjebak di dalam gua. Saat Richard masuk gua, istrinya tinggal di penginapan tidak jauh dari gua. Dia sangat optimistis suaminya akan membawa hasil. Belum pernah suaminya gagal. Di medan yang berat sekali pun.
Optimisme itu jadi kenyataan. Richard keluar gua membawa berita gembira: menemukan mereka dalam keadaan hidup. Dengan gambaran lokasi yang menyayat hati: berada di satu gundukan yang dikelilingi air. Gelap gulita. Tanpa makanan. Tapi mereka masih cukup sehat. Saat ditemukan ada yang lagi tidur. Ada juga yang gemetaran. Lapar dan dingin.



