Keberaniannya itu mendapat sambutan hangat. Termasuk dukungan tertulis. Dari internal tentara sendiri. Heboh. Bolsonaro menjadi top. Momentum disingkirkan itu membuatnya ambil putusan: masuk ke dunia politik. Nyaleg untuk DPRD kota Rio de Jeneiro. Lewat Partai Kristen. Terpilih.
Karir politik Bolsonaro terus melejit. Tahun 1990 nyaleg untuk DPR Pusat. Umurnya baru 35 tahun. Terpilih. Dan terus terpilih. Menjadi anggota DPR selama 28 tahun. Ia melihat saat ini kepercayaan rakyat pada pemerintah terus menurun. Muak. Dengan korupsi yang terus terbongkar. Juga dengan parahnya penegakan hukum.
Kapten Bolsonaro pun mencalonkan diri. Lewat Partai Sosial Demokrat. Bahwa rakyat mengidentikannya dengan Trump adalah juga watak tegasnya. ”Kalau ada polisi yang menembak 10, 15, 20 orang jahat ia harus mendapat penghargaan,” katanya.”Kalau polisi menghabiskan peluru sampai 30 butir untuk menembak satu penjahat harus diapresiasi,” tambahnya.
Kalau Bolsonaro terpilih, ia harus menghadapi kenyataan: bagaimana hubungan Brazil dengan Tiongkok. Ibarat madu dan racun. Menjadi satu. Memang luar biasa banyaknya proyek Tiongkok di Brazil. Dan besarnya. Tapi juga begitu banyak Brazil ekspor ke Tiongkok. Terutama bijih besi dan kedelainya.
Apalagi sejak perang dagang Amerika-Tiongkok. Kedelai Brazil membanjiri Tiongkok. Itu menyangkut 40 persen pemilih. Yang jadi pendukungnya. Tiongkok telah investasi 124 milyar dollar di sana. Beli apa saja: tambang, minyak, pelabuhan, kereta api…
Tiongkok juga membeli perusahaan strategis: Molybdenum Co. Dengan harga 1,7 milyar dollar. Molybdenum adalah bahan aditif untuk peleburan baja. Agar bajanya bisa lebih ringan tapi juga lebih kuat. Brazil menguasai 85 persen sumber bahan ini. Tiongkok sangat memerlukannya untuk kemajuan teknologinya. Brazil memang penghasil kedelai yang hebat. Kita tunggu saja apakah Bolsonaro itu kedelai atau tempe.
(dahlan iskan)


