ARTIKELCATATAN DAHLAN ISKAN

Belanda Budiman

×

Belanda Budiman

Sebarkan artikel ini
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

“Sudah pindah ke Tangerang,” ujar Esni seperti ditirukan Budiman kepada Salman Muhiddin, wartawan Harian Disway. “Tidak tahu di Tangerangnya di mana,” tambahnya.

bank BJB

“Saya ingin sekali mencari ke Tangerang. Tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Tangerang luas sekali,” katanya.

Kesempatan mencari Sang Ibu terbuka. Budiman harus sering ke Indonesia: pacarnya tinggal di Surabaya.

Sang pacar, Ana van Valen, bekerja untuk Yayasan Mijn Roots di Surabaya.

Ana juga seperti Budiman: bayi Indonesia yang diadopsi orang Belanda di masa itu. Ana pernah kawin dengan orang Belanda yang juga hasil adopsi dari Indonesia.

Saya tidak menyangka bisa bertemu bayi-bayi yang kami liput lebih 40 tahun yang lalu. Yang kini sudah begitu gagahnya. Dan cantiknya. Yang bayi-bayi itu kini mulai lagi belajar bahasa Indonesia di masa setengah umur mereka. Mereka ternyata juga sangat mencintai Indonesia.

“Kalau misalnya ada tawaran untuk mendapat paspor Indonesia, Anda pilih punya paspor Belanda atau Indonesia?” tanya saya.

“Sulit sekali menjawab,” ujar Budiman. “Saya sama-sama mencintai Belanda dan mencintai Indonesia,” tambahnya.

Sebagai wartawan, Budiman bisa masuk Iran lebih mudah dengan paspor Indonesia. Tapi bisa lebih mudah masuk Israel dengan paspor Belanda. “Sulit memilihnya,” kata Buddy Wichers, nama panggilannya.

Lebih dari paspor dan kewarganegaraan, Buddy Wichers, kini lagi jatuh cinta pada bebek goreng Surabaya. Jangan-jangan karena belakangan tidak bisa banyak pakai minyak goreng lagi.(Dahlan Iskan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *