Sementara, lanjutnya, dua pasangan lainnya yakni, Sudrajat-Syaikhu dan TB Hasanudin-Anton meski dalam survei memiliki elektabilitas lebih rendah tetapi kedua pasangan ini dapat menggebrak jika mesin partai pengusung mereka yakni, Gerindra dan PDIP bergerak. ”Pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan dianggap paling terendah elektabilitasnya,” kata Eko.
Eko memperkirakan Sudrajat-Syaikhu dan TB Hasanudin-Anton berpeluang mencapai angka elektabilitas dua digit meskipun akan sangat sulit melampaui dua pasangan teratas. ”Karena total suara hanya 100 persen maka penambahan angka kedua pasangan terbawah ini hanya akan ‘menggerogoti’ suara pasangan Ridwan-Uu dan Deddy-Dedi,” ujar Eko.
Eko mengingatkan, pasangan Ridwan-Uu serta Deddy-Dedi memiliki tantangan untuk menjaga perolehan suaranya agar tidak diambil alih pasangan Sudrajat-Syaikhu dan TB Hasanudin-Anton. Baik Ridwan-Uu maupun Deddy-Dedi sejauh ini tampak saling berbagi basis wilayah di empat wilayah pembangunan dan wilayah kultural di Jawa Barat.
Eko dalam kesempatan itu membeberkan, Ridwan-Uu unggul tipis 48 persen berbanding 43 persen di Wilayah Pembangunan I yang meliputi Bogor Raya, Sukabumi, Cianjur dan Depok. Ridwan-Uu juga unggul secara telak (61 persen berbanding 27 persen) di Wilayah Pembangunan IV yang meliputi Bandung Raya, Tasik, Garut, Ciamis dan Pangandaran.
Sementara, lanjutnya, itu Deddy-Dedi unggul jauh di Wilayah Pembangunan II yang meliputi Bekasi Raya, Purwakarta, Karawang, dan Subang (57 persen berbanding 25 persen). Deddy-Dedi juga unggul cukup telak di Wilayah Pembangunan III yang meliputi Cirebon Raya, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan 44 persen berbanding 37 persen.
Lebih jauh jika dilihat dari latar belakang pemilih, basis pemilih Ridwan-Uu tercatat muncul dari kalangan wiraswasta, karyawan swasta, dan pemilih dengan pendidikan SMA ke atas, serta terkoneksi dengan media sosial. (aen/jpnn)



