Akan tetapi, tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal tidak terbukti. Selain itu, kemudian diketahui bahwa alasan invasi ke Irak lebih dilatarbelakangi oleh motif penguasaan sumber minyak.
“Ini membuktikan kepada kita betapa sebuah informasi yang tidak ditelusuri dulu kebenarannya, dapat mengakibatkan kehancuran, seperti kehancuran yang dialami Irak setelah perang,” kata Kris yang juga sebagai penulis buku “Ilmu Negara: Perspektif Geopolitik Masa Kini”.
Kris juga mengingatkan masyarakat untuk menelusuri terlebih dahulu fakta sebenarnya, dari pemberitaan mengenai Uyghur yang marak di media massa dan media sosial akhir-akhir ini. Pemberitaan itu terkait diskriminasi terhadap etnis Uyghur yang mayoritas Muslim dan tinggal di provinsi Xinjiang, Tiongkok.
Selain diskriminasi, pemerintah Tiongkok dikabarkan mendirikan kamp konsentrasi bagi orang Uyghur, sehingga memicu demonstrasi di depan kedutaan Republik Rakyat Tiongkok di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Kris, menelusuri fakta sangat penting, agar masyarakat bisa bersikap adil dalam melihat dan menilai suatu isu. “Bahkan, kitab suci Alquran memerintahkan untuk bersikap adil, karena adil mendekatkan manusia pada takwa,” ujar Kris.
Ia juga menambahkan bahwa dalam konteks lebih luas, Alquran melarang manusia untuk bersikap tidak adil, bahkan terhadap orang yang dibenci sekalipun.




