“Iya, ini untuk menghindari dan agar tidak terjadi berikutnya, karena biasanya bullying itu tidak terjadi satu kali dan bisa berulang-ulang dan Insya Allah tadi sudah kita sampaikan dan ada psikolog juga yang memberikan simulasi cara menghadapi situasi bullying dan trauma akibat kekerasan,” paparnya.
Sesi tanya jawab berjalan interaktif, di mana siswa bertanya tentang mekanisme pelaporan dan peran guru serta orang tua dalam mendampingi korban. Untuk itu, ia berharap ilmu yang diperoleh siswa dapat diteruskan ke keluarga dan lingkungan sekitar, sehingga cita‑cita menciptakan sekolah aman dan ramah anak dapat terwujud.
“Semoga setelah kegiatan ini, anak‑anak merasa lebih aman dan nyaman di sekolah, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan optimal tanpa rasa khawatir terancam kekerasan,” pungkasnya. (den/d)






