PENDIDIKAN

Publikasi Ilmiah Tingkatkan Produktivitas Penelitian

×

Publikasi Ilmiah Tingkatkan Produktivitas Penelitian

Sebarkan artikel ini
Periset Produktif
TANGKAPAN LAYAR: Peneliti Ahli Utama PRTDRAN-BRIN, Muhayatun Santoso saat menjadi pembicara dalam webinar "Menjadi Periset Produktif Melalui Publikasi Ilmiah". (istimewa)

TANGERANG SELATAN – Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rohadi Awaladuin mengatakan publikasi ilmiah merupakan salah satu bukti yang menunjukan produktivitas dari kegiatan penelitian agar terlihat secara luas. Menurutnya, aktivitas riset nuklir di BRIN sangat banyak dan sudah terdepan. Namun demikian yang diperlukan adalah kemampuan untuk mengemasnya menjadi publikasi ilmiah.

“Pertama kemampuan mengemas bagaimana capaian-capaian yang kita peroleh ini bisa kita tata dan kita kemas menjadi suatu produk ilmiah, sehingga produktivitas kita lebih terlihat,” ujar dalam acara webinar “Menjadi Periset Produktif Melalui Publikasi Ilmiah”, beberapa waktu lalu.

Bank bjb Tandamata

Dikatakan Rohadi, dengan mengemas suatu hasil penelitian menjadi Karya Tulis Ilmiah (KTI) juga akan dapat meningkatkan kualitas penelitian. “Kalau kita tidak berusaha mengemas menjadi suatu KTI maka akan begitu saja, tetapi kalau kita coba susun memang ada kekurangan ini dan itu, pada akhirnya akan membawa kita balik lagi ke awal melihat kembali desain riset kita agar hasilnya lebih baik lagi,” tuturnya.

Rohadi berharap acara ini dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki cara kerja dalam riset yang akan berujung pada meningkatkan kedewasaan intelektualitas dari mulai cara berpikir sampai menuangkan menjadi suatu karya tulis ilmiah dengan baik yang mudah ditangkap dan dibaca oleh pihak lain.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Deteksi Radiasi dan Analisis Nuklir (PRTDRAN) – BRIN, Muhayatun Santoso selaku narasumber menyampaikan bahwa sebagai peneliti akan menghasilkan banyak hal yang menarik untuk dikaji.

“Bagaimana cara mengemas hasil penelitian sangat diperlukan agar penelitian tersebut berguna, tidak hanya bagi diri pribadi peneliti namun bagi peneliti lain dan perkembangan ilmu penelitian,” ujarnya.

“Kita selalu never ending process. Kita terus menghasilkan banyak hal sesuatu yang menarik untuk dikaji dan seterusnya. Bagaimana caranya kita mengemas semuanya menjadi sesuatu yang nantinya itu sangat berharga, bukan hanya untuk diri kita tetapi untuk peneliti-peneliti lain dan mungkin juga untuk tahapan riset selanjutnya,” lanjutnya.

Muhayatun mendorong para periset untuk segera mulai menulis dan mensubmit ke jurnal internasional tanpa merasa takut ditolak serta melakukan kolaborasi yang akan menjadi nilai tambah dari sebuah artikel. Saya kira kalau di reject tidak usah khawatir dan sebagainya karena kita akan mendapatkan feedback yang baik,” tandasnya.

Narasumber lain Hendris Wongso, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetry (PRTRRB) BRIN menyampaikan tahapan dalam proses publikasi ilmiah.

“Tahapan pertama yang dilakukan adalah melakukan riset yang baik dengan kebaruan untuk memperoleh data yang berkualitas sehingga dapat di publish di jurnal yang bereputasi,” terangnya.

“Kita yakin dan kita percaya bersama-sama bahwa ketika kita melakukan riset yang baik dengan kualitas yang baik maka nanti muaranya adalah publikasi yang bereputasi bisa mungkin harapannya di level tertinggi misalnya di Q1 scopus,” tambahnya.

“Tahapan selanjutnya adalah bagaimana membungkus data hasil riset tersebut dengan mempersiapkan manuskrip untuk di submit ke jurnal yang dituju,” lanjut Hendris.

Hendris juga mengungkapkan dalam memilih jurnal yang tepat dapat di kroscek, salah satunya melalui Scopus atau di Simago. Dia pun menambahkan bahwa civitas BRIN dapat melakukan pengecekan melalui website reputasipublikasi.brin.go.id. “Kita bisa kroscek di sana jurnal yang kita tuju ini masuk indeksasi BRIN atau tidak,” ujarnya.(jml)