JAKARTA – Pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia masih menemui banyak hambatan. Seperti kurangnya fasilitas penunjang, tempat praktik dan juga laboratorium.
Kekurangan fasilitas menyebabkan para siswa yang menempuh pendidikan vokasi tidak memiliki cukup sarana untuk mengembangkan keahlian, sehingga sulit mengikuti perkembangan industri.
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pandu Baghaskoro mengatakan, kurangnya fasilitas penunjang pendidikan vokasi lebih banyak di SMK yang terletak di pedesaan atau jauh dari kota besar.
“Banyak SMK di Indonesia yang tidak memiliki laboratorium sehingga mereka sulit menggelar workshop yang dilengkapi dengan alat teknologi terbaru,” katanya kepada wartawan.
Menurut Pandu, kegiatan workshop sangat membantu peserta untuk bisa mempraktikkan keilmuan agar bisa digunakan di dunia pekerjaan nantinya. Pendidikan vokasi seharusnya mengedepankan pelatihan keterampilan praktis yang sangat bergantung pada alat.
“Fokus pemerintah untuk menyiapkan lulusan pendidikan vokasi yang siap bersaing di era Industri 4.0, jangan sampai lupa untuk mengurusi demand industri yang saat ini ada dan masih belum terpenuhi.





