Perwakilan santri tingkat akhir, M. Raushan Fikri Arif, menyampaikan bahwa selama menempuh pendidikan di Al Umanaa, para santri dibekali kesadaran untuk menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda dan membutuhkan solusi yang lahir dari individu-individu berilmu serta berkarakter.
“Setiap masa memiliki generasinya, setiap generasi memiliki masalahnya, dan setiap masalah membutuhkan solusi yang lahir dari manusia-manusia yang berilmu dan berkarakter,”tuturnya.
Hal senada juga dikatakan dari salah satu perwakilan santri pengabdian 2025, Putri Najwah Lubis, menilai masa pengabdian merupakan fase penting yang membentuk ketangguhan mental sekaligus menanamkan kesadaran bahwa seorang muslim memiliki tanggung jawab yang tidak pernah berhenti.
“Di masa pengabdian kami belajar bahwa peran kita sebagai muslim tidak bisa diistirahatkan. Selalu ada amanah yang harus ditunaikan dan kontribusi yang harus diberikan,” pungkasnya. (wdy)






