Melalui 28 ribu pondok pesantren yang ada di Indonesia, Kemenag terus berupaya mengajarkan dan menyebarkan akidah ahlu sunnah wal jamaah. “Kunjungan pada dosen dari Libanon ini menambah semangat dan girah kami. Semoga kerjasama ini dapat terus kita kembangkan,” ujarnya.
Rofiq menambahkan, ma’had aly di Indonesia menjadi ikon pendidikan pondok pesantren. Oleh karena itu, ma’had aly juga menjadi penentu kualitas pendidikan keagamaan di Indonesia. “Kami berencana mendirikan ma’had aly di setiap provinsi dan harus memastikan bahwa semua ma’had aly mengajarkan Akidah ahlu sunnah wal jamaah,” ujar Ainurrafiq.
Rafiq juga menyampaikan harapannya agar santri Indonesia dapat mengenyam pendidikan di Lebanon. “Ucapan terima kasih juga kami sampaikan atas nama Kementerian Agama dan pemerintah Indonesia,” tuturnya. Sebelumnya, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa kunjungan para dosen Lebanon ini merupakan salah satu implementasi kerjasama akademik antara Kementerian Agama dengan Global University Beirut. Kerjasama ini telah disepakati sejak beberapa tahun lalu.
Dalam kunjungan ini, lanjut Kamaruddin, para dosen nantinya akan berbagi pengetahuan terkait metode pengajaran Bahasa Arab dengan mahasiswa Ma’had Aly di Indonesia. “Indonesia siap menjadi pusat peradaban dan tujuan pendidikan dunia karena Indonesia memiliki potensi yang besar untuk hal tersebut, misalnya jumlah perguruan tinggi yang sangat banyak,” ujar Kamaruddin.
Kamaruddin mengatakan, ada sejumlah program yang sudah disiapkan dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai tujuan pendidikan dunia. Menurutnya, Kementerian Agama memiliki program pengiriman dosen untuk belajar ke luar negeri.



