Kalau sudah demikian, Iskandar dan anak-anak dusun terpaksa “meliburkan diri”. “Bukan cuma kami yang tidak sekolah. Orang-orang tua juga tidak bisa ke mana-mana. Semua terisolasi di sini kalau hujan deras,” kata Iskandar.
Menurut Abdullah, salah seorang warga, kondisi mengenaskan itu telah berlangsung lama. Namun, entah mengapa, tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah.
“Kami tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya jalan,” ungkapnya.
Pada 2015 sebenarnya sudah mulai dibangun jembatan di tempat warga menyeberang tiap hari. Warga tentu saja dengan gembira menyambut. Telah terbayangkan pula betapa hari-hari mencemaskan saat menantang maut untuk menyeberang segera berakhir.
Tapi, kegembiraan itu hanya berumur pendek. Pembangunan jembatan di dusun yang berjarak sekitar 32 km dari Maros itu tak berlanjut. Cuma fondasinya yang masih tersisa sampai kini.
Kepala Desa Bonto Matinggi Haerul mengatakan, pada 2015 itu dana yang digunakan untuk membangun adalah dana desa.
Sebesar Rp 170 juta. Tapi tak cukup. Kemudian dianggarkan lagi pada 2017. Juga masih belum cukup.



