“Karena kita takut mereka terseret (kalau berenang, Red). Kalau anak laki-laki yang besar, semua bisa berenang,” kata Iskandar kepada Fajar (Jawa Pos Group) Sabtu lalu (7/4).
Tiap jam berangkat dan pulang dari sekolah, Iskandar dan beberapa rekan sebayanya yang lelaki pun jadi yang paling sibuk. Merekalah yang menyeberangkan adik-adik mereka dengan ban. Kebetulan, Iskandar juga punya adik yang masih bersekolah di kelas II SD.
Bolak-balik. Karena ban cuma satu. Tak jarang ban harus terseret jauh dari tepian ke seberang akibat derasnya arus sungai itu.
Sekolah para bocah itu terletak di pusat Desa Bonto Matinggi. Nah, sungai tadi memisahkan Damma yang dihuni sekitar 200 warga dengan pusat desa tersebut.
Para siswa yang menyeberang dengan berenang seperti Iskandar otomatis harus membawa baju ganti. Seragam dan peralatan sekolah lainnya mesti disimpan dalam tas plastik.
April ini, di ujung musim hujan, arus sungai juga masih sangat deras. Menyeberang dengan ban pun menjadi satu-satunya pilihan jika tetap ingin bersekolah. Tetapi, saat puncak musim hujan, sungai menjadi benar-benar ganas. Warga yang mahir berenang sekalipun tidak akan berani mengarungi.



