Kampanye ini adalah bukti bahwa warganet Indonesia tidak hanya sekedar jago mengkritik atau nyinyir, tapi juga mampu berkontribusi secara nyata, hanya dengan menyisihkan sedikit saja waktu mereka. Donasi yang terkumpul untuk bantuan bagi masyarakat Banten dan Lampung mencapai Rp11 juta. Timnya juga ikut turun ke lapangan pada 30 Desember 2018.
“Kalau motivasi yang jelas kami punya visi #sedekahtanpabatas, hadirnya gotongroyong.in lahirlah gotongroyong untuk menjawab masalah tersebut dan memfasilitasi keinginan berdonasi bagi siapa saja. Karena berdonasi melalui platform tidak memerlukan uang sedikitpun,” jelas Radhiyan.
Untuk capaian saat ini mereka berhasil lolos seleksi menjadi peserta program inkubasi dari Direktorat Inovasi dan Inkubasi Bisnis UI dan mengikutsertakan idenya di berbagai lomba dan pitch event. Hasilnya, pada 2018 mereka berhasil meraih peringkat tiga lomba business plan yang diadakan departemen sosial masyarakat BEM UI.
“Alhamdulillah kami didukung, diberikan coworking space, rencananya kami juga mau daftar program inkubasi dari UI juga,” syukur Radhiyan
Sementara menurut Mutsla, untuk kriteria kampanye yang dilakukannya belum ada syarat dan ketentuannya.
Hanya saja bencana yang terjadi belakangan ini membuatnya tergerak untuk menyalurkan bantuan dan salah satu usaha untuk membantu masyarakat terdampak.
“Kampanye atau isu yang momentumnya tepat untuk memperkenalkan website tersebut. Sebagai pilihan platform berdonasi. Kedepannya kami berencana membuat sistem dimana setiap orang dapat membuat kampanye sendiri (seperti kitabisa), namun dengan standar gotongroyong (ada sistem screening karena model kami tidak semata-mata marketplace untuk crowdfunding),” tukas mahasiswi fakultas FISIP itu.
(dan)






