Beberapa anak muda Dusun Guntur juga memiliki senapan angin. Tapi, karena spesifikasinya hanya untuk menembak burung, tembakan pada monyet sebatas melukai. Widhi sadar perburuan monyet itu memicu pro dan kontra. ”Tapi, kalau ada pihak yang tidak setuju dengan perburuan, silakan datang ke Guntur, peliharalah monyet-monyet itu.
Kami sudah kehabisan cara. Kalau kemarau kekurangan air untuk bercocok tanam, kalau musim hujan kami diserang monyet,” cetus Widhi yang juga mantan ketua Persatuan Perangkat Desa Indonesia Kabupaten Wonogiri.
Di alam, monyet-monyet itu nyaris tak menghadapi predator. Jadi, pertumbuhannya begitu pesat. Koloni mereka terus bertambah, sedangkan makanan yang tersedia di alam terbatas. Jadilah ladang jagung yang mereka serbu.
Karena itulah, warga Guntur berharap Pemkab Wonogiri kembali turun tangan untuk mengatasi pagebluk kali ini. Dengan memanggil lagi para pawang dari suku Baduy. Widhi ingat betul bagaimana monyet-monyet liar tersebut malah mendekat ketika ada para pawang Baduy. ”Mudah sekali menangkapnya. Entah pakai jampi-jampi apa saya tidak tahu. Yang pasti, setelah itu tidak ada lagi serangan monyet sampai muncul lagi kini,” terangnya.
(*/c9/ttg)




