Dusun Guntur, seperti umumnya desa-desa bertanah karst di Paranggupito, mengandalkan pengairan tadah hujan. Tanahnya merah. Sekelilingnya dikepung bukit karst.
”Ada tradisi lokal masyarakat kami yang namanya ngawu-awu, warisan leluhur masyarakat yang hidup di tempat tandus seperti di Paranggupito,” jelas Widhi saat kami kembali melanjutkan perjalanan.
Metode tersebut secara garis besar adalah mengolah lahan, lalu menanam benih di akhir musim kemarau.
Harapannya, jika hujan turun, benih langsung bisa tumbuh. Benar saja, benih-benih jagung, kacang tanah, dan padi gogo yang ditanam sekitar November 2018 saat ini sudah memasuki masa panen. Tapi, itu tadi, buah kerja keras yang sudah di depan mata tersebut lenyap akibat serbuan monyet.
Binatang tersebut biasa hidup berkoloni mulai 30 sampai 50 ekor. Bahkan, antarkelompok monyet itu juga sering berkelahi memperebutkan makanan. Kalau sudah begitu, tanaman bisa dipastikan rusak sebagai ajang tawuran monyet-monyet.
Untuk saat ini memang Dusun Guntur yang diincar. Sebab, jagung dan kacang tanah di sana sudah siap panen. Tapi, itu tidak berarti dusun atau bahkan desa-desa lain di Paranggupito bakal aman. Bulan depan bisa saja lahan mereka yang ganti diserang.




