NASIONAL

Sekolah Pinggir Kali, Tak Henti Bawa Misi Mulia

×

Sekolah Pinggir Kali, Tak Henti Bawa Misi Mulia

Sebarkan artikel ini

Bagaimanapun niat Agung yang lulusan SMKN 10 atau STM Perkapalan itu terlanjur bulat. Sunarsi bercerita kala itu suaminya tak pernah peduli dengan omongan atau pandangan negatif warga sekitar. “Katanya, saya tak peduli yang penting itu tindakan. Itulah salah satu kenapa ia dipanggil Agung Nekat, yang kini ada juga nekaters-nekaters lain,” terangnya.

Belum lagi kondisi yang menempatkan Agung menjadi harus berjalan dengan kaki palsunya, selepas amputasi akibat penyakit diabetes yang dideritanya sejak usia 34 tahun. Belum lagi penyakit gagal ginjal yang pada akhirnya harus merenggut nyawa Agung di usianya ke 42.

Bank bjb Tandamata

Kerap kali Sunarsi memandangi deretan piagam penghargaan terpampang di dinding rumahnya. Memang, belasan penghargaan terbingkai rapi tersebut menjadi bukti jerih payah Agung dan rekan-rekan untuk diakui khalayak luas.

“Sebenarnya kepinginan suami saya itu tidak banyak kok. Dia cuma ingin anak-anak sekitaran, termasuk putra-putrinya tumbuh jadi anak bertanggungjawab, punya sopan santun, dan hormat kepada orang tua,” katanya.

Bukan hanya anak sekitaran Kampung Sumeneban yang pada akhirnya bergabung dengan Komunitas Harapan. Bahkan, anak-anak jalanan sekitaran Pasar Johar juga turut ditampung di sana. Beberapa di antaranya pun dibantu agar bisa bersekolah.

Selama lima tahun ini, tak kurang dari sekitar 70 anak terdiri dari berbagai kisaran usia tergabung dalam Komunitas Harapan. Ruang tamu rumah 8 meter x 4 meter yang awalnya digunakan sebagai tempat pembelajaran itu sekarang tak lagi muat hingga sering bagi kelompok ini menggunakan gedung serba guna kampung tak jauh dari lokasi.

“Ada beberapa yayasan juga yang bekerjasama dengan kami. Alhasil, beberapa dari anak didikan Komunitas Harapan mendapat beasiswa. Yang dilombakan juga ada,” bebernya.
Mereka yang turun tangan mengurusi komunitas ini pun makin banyak. Salah satunya Mohammad Whizzkid Marhaenis, putra sulung Agung dan Sunarsi yang masih duduk di bangku kelas IX SMKN 5 Kota Semarang. Pria berusia 16 tahun itu kini mewarisi ilmu kerajinan tangan milik mendiang ayahnya.