Aktif pada hari Kamis hingga Minggu, Komunitas Harapan menyediakan berbagai macam buku bacaan, mulai dari ilmu pengetahuan sampai buku cerita anak. Namun bukan hanya mata pelajaran mirip pendidikan formal yang diajarkan di bangunan yang berlokasi di bantaran Sungai Semarang itu.
“Kami ajarkan kreativitas di sini, seperti bagaimana membuat kerajinan dari barang bekas, ada bimbingan menari, mengaji juga. Suami saya pinginnya anak-anak itu di sini juga main, tapi terarah daripada main di sekitaran pasar bergaul dengan orang bukan sepantaran,” sambungnya.
Untuk itu, tak jarang pihaknya mendatangkan tenaga pengajar mahasiswa dari sejumlah universitas di Semarang. Akan tetapi, lanjut Sunarsi, banyak juga yang datang ke tempatnya dengan maksud sukarela.
“Ada yang dari jurusan kedokteran misalnya. Membawa segala peralatan, mereka praktek sesuai tema. Dan masih banyak lagi, seperti kita bersama anak-anak diundang tour ke Akpol atau renang di Kodam,” katanya lagi.
Walau begitu, menurut Sunarsi, perjalanan berdirinya Komunitas Harapan ini tak selalu indah. Dikatakannya, Agung pada saat mendirikan sekolah informal ini banyak mendapat tentangan dari warga sekitar.
Bahkan, saat itu ada beberapa pihak menuduh Agung mendirikan Komunitas Harapan ini dengan maksud yang tidak-tidak. “Warga tahu kan kecilnya suami saya seperti apa, dikira anak-anak di sini mau dimanfaatkannya,” ujarnya sambil merapikan buku-buku sumbangan yang belum sempat terpajang di rak.



