Karena itu, dia menyesalkan sikap AQUA yang seperti tak mau tunduk dan tetap berjualan air kemasan gelas plastik. Menurutnya lagi, ‘solusi’ perusahaan dengan mengeluarkan kemasan botol air minum ukuran saku, volume 220 ml, tetap saja tak sesuai dengan kebijakan pemerintah, sekalipun produk tersebut diklaim memiliki berbagai kelebihan dari kemasan cup, yakni dapat didaur ulang, tanpa sedotan, tanpa label plastik, atau tutup yang disegel.
Menurut Ahmad, tingkat daur ulang sampah plastik, termasuk sampah industri air kemasan, masih rendah meski kalangan produsen kerap menebar klaim kesuksesan dalam soal ini. Penelitian investigatif Net Zero pada November 2023 di enam kota — Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bali dan Samarinda – menunjukkan sampah kemasan air minum, baik dalam bentuk botol maupun gelas plastik, termasuk yang paling membebani tempat penampungan sampah di berbagai kota, selain sampah plastik kresek dan kemasan saset berbagai merk.
“Sampah kemasan produk konsumen ukuran kecil masih selalu jadi masalah terbesar di setiap TPA,” kata Ahmad. Menurutnya, berkebalikan dengan anggapan umum, sampah produk konsumen dengan kemasan besar justru lebih mudah dikelola dan lebih bernilai ekonomis ketimbang sampah produk konsumen yang ukuran kemasannya relatif kecil. Yang terakhir, oleh sebagian masyarakat, kerap dipandang sepele lantaran dianggap sebagai ‘sampah kecil’.(*)






