“Itu teori representasinya tuh. Jadi kalau kita bilang 0 persen sekarang itu ide dari awal begitu demokrasi,” imbuh dia.
Oleh sebab itu, kata Rocky, tidak sulit bagi penyelenggara Pemilu di Indonesia untuk menjadikan ambang batas presiden nol persen demi lahirnya kepemimpinan yang ideal dan representatif.
“Karena kita percaya manusia itu kalau dia bisa bercakap-cakap secara etis dan argumen yang baik ya enggak kita curigai. Tapi justru demokrasi itu memperlihatkan pemburukan karena yang punya amplop tebal mendahului yang punya otak tebal. Nah itu bahayanya tuh,” pungkasnya.






