Kondisi itu membuat semua penumpang dan kru harus segera keluar dari pesawat. Mereka keluar melalui pintu depan. Turun lewat ranting pohon yang menancap di pesawat. Menuju lokasi yang sedikit landai.
Menjelang malam, mereka kembali ke kabin. Begitu seterusnya hingga hari keenam. Mereka memang sepakat untuk tidak berpencar. Itu berdasar pengalaman pahit para korban kecelakaan pesawat di Tinombala, Sulawesi Tengah, pada 1977.
Tapi, bekal roti dan air mineral pemberian maskapai hanya cukup sekali makan. Setelah itu, tidak ada lagi bahan makanan. Padahal, cuaca demikian dingin. Tiap hari hujan, disusul kabut. “Hanya suara burung dan air terjun yang kami dengar,” katanya.
Beberapa dari mereka mengambil botol air mineral dan diisi dengan air rotan untuk minum. “Rasa manis, tapi sedikit sekali airnya. Kami bertahan dengan itu,” papar dia.
Sebenarnya berkali-kali pesawat tim SAR melintas di atas lokasi kecelakaan. Tapi, karena tertutup pepohonan dan kabut, mereka tak terpantau.
Salah seorang penumpang, Paul Sumampouw, kepala Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi Utara saat itu, sebenarnya membawa handie-talkie (HT). Tapi, upaya Paul berkomunikasi dengan sembarang frekuensi tak membawa hasil. “Sempat tersambung dengan Sinar Karya Batudaa dan kami sampaikan kami kecelakaan serta selamat. Tapi, setelah itu komunikasi tidak berhasil lagi,” terang Erwin.
Erwin yang biasa berkomunikasi dengan HT lalu mengambil alih komunikasi. “Saya gunakan frekuensi 500. Tersambung dengan seorang pemilik toko di dekat Pasar Atinggola,” lanjut dia.
Sang pemilik toko merupakan pedagang harian di Atinggola. Dia selalu menggunakan HT untuk memesan bahan pokok. Kebetulan, Erwin kenal baik dengan dia.
“Mereka kaget. Ternyata, kami masih selamat,” ungkap Erwin.




