Sesuai data Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto, kini total 616 dari sebelumnya 523 ekor sapi yang terjangkit virus RNA sejenis Covid-19 itu. Tiga di antaranya sudah sembuh dan enam lainnya mati. Sedangkan satu dijual dan empat dipotong paksa. Angka itu menunjukkan ada kenaikan 93 kasus baru.
Ikfina mengatakan, peternak harus memperhatikan kehigienisan saat menyentuh hewan ternaknya. Termasuk tidak boleh mencampur pakan dan minum sapi.
Secara terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur Muthowif meminta pemerintah bertindak tegas dalam merespons wabah PMK ternak di Jatim. Pasalnya, hal itu bakal melukai ekonomi provinsi tersebut. ’’Saat ini, memang belum semua daerah terdampak. Tapi, wilayah persebaran yang sudah sampai tujuh kota/kabupaten dan 2 ribu ternak itu sudah meresahkan,’’ ungkapnya.
Jika hal itu tak segera dilakukan, ekonomi Jatim bisa terluka. Pasalnya, peternak dan pedagang sapi potong sedang menunggu lonjakan permintaan menjelang Idul Adha. Di hari besar itu, konsumsi bakal naik hingga 30 persen.
Namun, kondisi tersebut bakal berubah jika wabah sudah meluas. Masyarakat sudah pasti ragu untuk membeli daging sapi. Padahal, peternak Jatim merupakan penyuplai besar untuk Indonesia. Wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta biasanya menyerap suplai dari Jatim. “Kalau tunggu dua–tiga bulan lagi, bisa-bisa kami yang hancur,” tegas Muthowif.(*)






