Jelang Indul Adha, PMK Menyerang Hewan Ternak dan Menyebar di Tujuh Kabupaten-Kota di Jatim

Dinas Peternakan Kabupaten Madiun melakukan pengecekan kesehatan sapi
CEK LAPANGAN: Dinas Peternakan Kabupaten Madiun melakukan pengecekan kesehatan sapi dan kambing di Pasar Hewan Desa Bajulan, Saradan, kemarin. (JAWA POS RADAR MADIUN) Peternak Minta Segera Diatasi sebelum Idul Adha

JAKARTA — Pemerintah mengantisipasi persebaran penyakit kuku dan mulut (PMK) yang menyerang hewan ternak. Arus keluar masuk hewan ternak di wilayah yang sudah terjangkiti penyakit tersebut dibatasi.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, langkah pencegahan dilakukan dengan isolasi. ”Model isolasinya berbasis kandang. Artinya, sapi yang terjangkit PMK tidak boleh dikeluarkan dari kandang. Sebaliknya, tidak boleh ada sapi yang masuk pada kandang tersebut,” katanya setelah rapat koordinasi di Gedung Grahadi, Surabaya, Senin (9/5) malam.

Bacaan Lainnya

Keputusan tersebut menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, presiden meminta Mentan melakukan lockdown dan menerapkan sistem zonasi lockdown agar pergerakan ternak dapat dicegah dengan baik. Selain itu, presiden meminta dibentuk satuan tugas (satgas).

Yasin menjelaskan, pusat veteriner farma (pusvetma) di Surabaya sedang meneliti kasus PMK tersebut. Kementerian Pertanian ingin mendapat informasi lengkap tentang jenis dan level penyakit tersebut. Syahrul berharap hasil dari laboratorium segera keluar. Dengan begitu, tim penanganan di lapangan mengetahui jenis atau dosis vaksin yang digunakan. ”Penanganannya akan lebih efektif,” terangnya.

Dalam rakor tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, pemerintah provinsi sudah berkoordinasi dengan peternak yang binatang ternaknya terjangkit PMK. Mereka diperintahkan menerapkan isolasi dan karantina bagi ternaknya.

Dia menyebutkan empat wilayah yang menjadi perhatian. Yakni, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Lamongan. Di empat daerah itu, sudah ada penanganan melalui penyuntikan pertama selain dilaksanakan isolasi berbasis kandang. Penyuntikan tahap kedua sedang berlangsung. Yakni, tiga hari setelah penyuntikan tahap pertama. Setelah itu, dilakukan pemantauan hingga sapi dinyatakan sembuh.

Sementara itu, kemarin (10/5) Syahrul Yasin Limpo mengkroscek kondisi ternak yang terpapar PMK di Gresik. Kementan telah menetapkan Gresik dengan status kejadian luar biasa (KLB). Lockdown zonasi mulai diterapkan.

Yasin mengunjungi Desa Sembung, Wringinanom, untuk melihat ternak. Dia menyatakan, Kementan telah menugaskan tim untuk mengecek kondisi lapangan sebagai upaya pemberantasan PMK pada hewan ternak di Kabupaten Gresik.

Dengan lockdown zonasi, kata dia, mutasi ternak dari satu tempat ke tempat yang lain atau pergerakan ternak dari kabupaten ke kabupaten, apalagi provinsi ke provinsi, betul-betul bisa dicegah.

Medis Veteriner Dinas Pertanian Gresik drh Budi Santoso menyebutkan, kemarin (10/5) terdapat tambahan 85 ekor sapi yang positif PMK dengan tambahan 2 ekor mati. ’’Per hari ini (kemarin, Red), pasar hewan semua kami tutup. Akses lalu lintas ternak di Gresik juga ditutup. Kemudian, pemotongan hewan di rumah-rumah juga ditutup. Tapi, untuk pemotongan, kami fokuskan di RPH (rumah pemotongan hewan) milik Pemkab Gresik,’’ ujarnya.

Di Sidoarjo, yang juga ditetapkan sebagai salah satu daerah wabah PMK, saat ini tercatat 744 hewan ternak yang terjangkit. Dari jumlah itu, 14 sapi dilaporkan mati dan 18 sapi dipotong paksa.

Tenaga Teknik Sipil Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Sidoarjo drh Rina Vitriasari mengatakan, pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah. Mulai mengidentifikasi jumlah sapi yang diduga terpapar hingga memberikan pengobatan secara simtomatis sesuai gejala yang muncul. Misalnya, demam.

Pihaknya meminta peternak tidak sampai panic selling atau serentak menjual ternak. Sebab, tingkat kematiannya rendah, tapi penularannya memang cepat. Jika dijual, interaksi antarhewan lain yang potensial tertular akan makin luas. Seandainya ada indikasi PMK dan ingin dipotong paksa, pihaknya mengarahkan untuk dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Krian.

Sementara itu, Radar Lamongan melaporkan, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wahyudi menyebutkan, saat ini ada 176 ternak yang sakit atau suspect PMK dari populasi satu kandang sebanyak 292 ternak. Ada lima ternak yang mati, tetapi belum dinyatakan positif PMK. Selain itu, ada dua ternak dipotong paksa.

Wahyudi menjelaskan, pemkab tidak bisa langsung menguji lab dengan rapid test. ”Sebagai antisipasi, ternak yang satu kandang dengan suspect PMK dipisahkan,” ujarnya.

Menurut Wahyudi, untuk kasus baru diindikasi asal ternak dari Balongpanggang, Gresik. Dari penelusuran sementara, penularan terakhir dari pasar hewan di Kabupaten Gresik. Sekarang ternak dalam masa karantina. ’’Semuanya yang diindikasi dalam masa karantina, untuk memperkecil penularan,” jelasnya.

Dia memastikan bahwa 50 ternak sudah dinyatakan sembuh atau menunjukkan gejala membaik. Namun, ternak tetap harus dikarantina agar kondisinya pulih 100 persen dengan diberi terapi obat sesuai kebutuhan. Pemeriksaan juga diperketat. Khususnya penyembelihan yang dilakukan di rumah potong hewan (RPH). ”Kita meminta pedagang semua untuk melakukan penyembelihan di RPH karena kondisinya ada wabah supaya ternak yang dikonsumsi masyarakat itu sehat dan aman,” tuturnya.

Di Kabupaten Mojokerto, persebaran PMK yang menyerang sapi meluas. Hingga kemarin, virus tersebut sudah menyerang 17 kecamatan dari sebelumnya 16 kecamatan. Kendati demikian, Bupati Ikfina Fahmawati meminta warga tidak panik.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.