Fakta Dibalik Kontroversi Pelabelan BPA, Simak Penjelasannya

Hasil pengawasan BPOM
ILUSTRASI. Hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan galon AMDK menunjukan migrasi BPA di bawah 0,01 bpj dari batas aman 0,6 bpj. (Istimewa)

Secara kasat mata bisa dilihat di mana-mana, sangat besar jumlah air minum dalam kemasan  yang disimpan dalam kemasan plastik, termasuk yang terbuat dari bahan PET, polikarbonat plastik keras dan polyethylene. Sebagian besar kemasan sekali pakai, termasuk kemasan galon atau botol, diproduksi dari plastik PET yang seratus persen nantinya bisa dengan mudah didaur ulang.

Bacaan Lainnya

Semua itu harus melalui proses yang meliputi dua aspek penting: yaitu memastikan  kecilnya peluang terjadi pelepasan kimia dari kemasan plastik dengan air yang disimpan di dalamnya, dan memastikan apabila sampai terjadi pelepasan senyawa kimia dari plastik kemasan maka dipastikan tidak akan membahayakan kesehatan manusia.

Dengan semua penjelasan dan data pendukung positif terhadap keamanan plastik PET, maka bisa dikatakan kemasan plastik PET lebih aman untuk kesehatan manusia. Alasan keamanan yang didukung pembuktian hasil riset prestisius dan lolos aturan badan regulasi  global inilah yang menjelaskan kenapa plastik PET digunakan secara masif di seluruh dunia, utamanya untuk kemasan makanan dan minuman dalam kemasan dan keperluan lainnya, seperti untuk kebutuhan farmasi dan medis. Fakta-fakta ini selayaknya dikedepankan, pasti lebih penting kesehatan warga dunia, ketimbang mempromosikan informasi BPA alih-alih mengakomodir kepentingan dagang. (*)

Pos terkait