Buruh: Menaker, Menteri Terburuk !

Aksi Buruh
Para pekerja yang berasal dari berbagai organisasi berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, kemarin.

JAKARTA– Sikap pekerja atau buruh terhadap Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (permenaker) nomor 2 Tahun 2022 jelas. Menolak keras.

Hal itu pun dibuktikan dengan aksi demo ratusan pekerja/ buruh ke depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Jakarta, kemarin (16/2).

Bacaan Lainnya

Tuntutannya sama. Cabut aturan tentang tata cara dan persyaratan pembayaran manfaat jaminan hari tua (JHT) tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam baleid yang diundangkan 4 Februari 2022 tersebut, JHT baru bisa cair penuh saat peserta memasuki usia 56 tahun.

Padahal, pada permenaker 19/2015, JHT bisa langsung dicairkan ketika peserta mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), resign, hingga meninggalkan Indonesia selamanya.

Iuran JHT sendiri terbilang cukup besa, sekitar 5,7 persen dari gaji buruh setiap bulannya. Di mana, dua persen dibayarkan oleh pekerja dan 3,7 persen dibayar oleh pemberi kerja.

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSPI) Said Iqbal menegaskan, aturan ini harus dicabut. Sebab, jika diimplementasikan maka akan sangat merugikan kaum pekerja/buruh karena tidak bisa mencairkan JHT miliknya.

Terlebih, dalam situasi pandemi Covid-19 yang masih sangat berdampak pada buruh saat ini. Karenanya, serikat buruh mendesak agar Permenaker 2/2022 dicabut.

Serikat buruh/pekerja akan memberikan waktu dua minggu pada Menteri Ketenagakerjaan (menaker) Ida Fauziyah.

Apabila tuntutan tak dikabulkan, maka buruh mengancam akan kembali turun ke jalan. ”Jika tidak, buruh akan mendesak Presiden untuk copot menaker,” ujarnya, kemarin (16/2).

Said sendiri menilai Ida sebagai menaker terburuk sepanjang sejarah Indonesia. hal ini lantaran kebijakan Ida dirasa tidak pernah berpihak pada kaum pekerja/buruh. Mulai dari undangundang cipta kerja (cipatker) melalui omnibus law, PP 36/2021 tentang pengupahan yang membuat beberapa daerahtidak naik, hingga Permenaker 2/2022.

Selain itu, Ida pun dituding melawan presiden karena kebijakannya melawan PP 60/2015 tentang program JHT. Yang mana, dalam aturan tersebut pekerja boleh mencairkan JHT saat terkena PHK atau mengundurkan diri dari perusahaannya. ”Ini adalah menaker paling terburuk, bukan pribadinya. Tapi, kebijakannya yang selalu merugikan buruh dan rakyat kecil,” ungkapnya.

Kebijakan yang mendadak ini pun memunculkan kecurigaan lain. Said menduga, dana JHT digunakan untuk membiayai program lain yang sejatinya tidak berkaitan dengan buruh atau JHT itu sendiri. Karenanya, dana JHT
ditahan begitu lama. ”Ke mana dana yang kurang lebih Rp550 Triliun itu, yang JHT-nya 70 persen atau sekitar Rp350 Triliun.
Jangan-jangan dipakai untuk lain,” paparnya. Atas kecurigaan ini, dia pun meminta agar DPR dan BPK turun tangan dengan membuat pansus. Sehingga, bisa ditelurusi aliran dana milik para buruh tersebut.

Di sisi lain, KSPI juga tengah menyiapkan rencana untuk menggugat Permenaker 2/2022 ini ke PTUN. Rencananya, gugatan akan disampaikan dalam waktu dekat.

Menaker sendiri tak tinggal diam atas aksi yang berjalan di depan kantornya. Ia pun sempat menerima perwakilan para
pekerja/buruh. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial Dan Jaminan Sosial Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Indah Anggoro Putri.

Diakuinya, permintaan untuk mencabut berat dilakukan. ”Respon ibu menaker dengan artian kalau minta dicabut memang berat. Sifatnya masih menampung dan mencatat,” katanya.

Menurutnya, saat ini pihaknya masih memiliki waktu hingga tiga bulan ke depan untuk mensosialisasikan Permenaker 2/2022 ini. Hingga batas waktu tersebut, aturan lama yakni Permenaker 19/2015 masih berlaku untuk pencairan JHT.

Disinggung soal gugatan ke ranah hukum, Putri mem – persilahkan. Ia pun turut menegaskan, bahwa aturani ni telah disetuji oleh presiden. Sehingga, tidak benar bahwa menaker melawan presiden. ”Kalau dianggap melawan, pasti kantor Setkab dan Kemenkumham tidak menyetujuui terbitnya ini,” ungkapnya. (mia)

Pos terkait