JAKARTA — Aksi penembakan yang berujung kematian Komandan Tim Badan Intelijen Strategis (Dantim BAIS) Pidie, Aceh, Kapten Abdul Majid, diduga bukan perampokan.
Menurut dugaan pengamat teroris, Al-Chaidar, pembunuhan itu terjadi karena proses penyerahan senjata yang gagal. “Jika perampokan biasa, mobil juga akan dibawa lari dan teman dari almarhum juga akan dibunuh,” jelas Al-Chaidar, dikutip Kantor Berita RMOLAceh, Selasa (2/11).
Al-Chaidar mengatakan, kemungkinan Abdul Majid mencoba meminta pemilik senjata api itu menyerahkannya kepada negara. Sebagai imbalan, negara akan memberikan kompensasi uang.
Namun uang yang dibawa Abdul Majid dianggap tidak sepadan. Karena posisi pemilik senjata telah diketahui, transaksi gagal itu berujung pada pembunuhan Abdul Majid.
Al-Chaidar memastikan kelompok yang menyerang ini bukan jihadis. Bisa jadi, mereka adalah kelompok yang tidak terkoordinir yang saat ini mengalami kesulitan ekonomi.






