NASIONAL

Bantah Bahas Fee Proyek

JAKARTA – “Nyanyian” mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih dalam persidangan kasus suap kesepakatan kerjasama proyek PLTU Riau 1 pekan lalu tak membuat Direktur Utama (Dirut) PT PLN Sofyan Basir kelimpungan. Saat menjadi saksi untuk terdakwa Johannes B. Kotjo, kemarin (25/10), Sofyan dengan santai mengelak semua keterangan Eni terkait pembahasan bagi-bagi fee proyek.

Misal, tentang “nyanyian” Eni yang menyebut Sofyan dijanjikan mendapat fee paling the best saat pertemuan di Hotel Fairmont Jakarta 3 Juli 2017 lalu. Menurut Sofyan, dalam pertemuan itu pihaknya sama sekali tidak pernah membahas soal fee proyek. “Sungguh tidak pernah,” kata Sofyan menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK Ronald Worotikan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Di persidangan sebelumnya, Eni yang menjadi tersangka dalam kasus ini mengaku pernah membahas soal bagi-bagi fee proyek dengan Sofyan dan Kotjo. Janji itu rencananya bakal direalisasikan setelah perusahaan Kotjo, PT Samantaka Batubara selesai mengerjakan proyek PLTU Riau 1. Fee yang dijanjikan untuk dibagi sebesar 2,5 persen dari nilai proyek.

Sofyan mengakui adanya pertemuan-pertemuan yang dilakukan bersama Eni dan Kotjo. Dia juga mengakui pernah bertemu dengan mantan Ketua DPR Setya Novanto jauh sebelum kesepakatan itu terealisasi. Salah satunya pertemuan di rumah Setnov pada 2016 akhir. Namun, di sepanjang pertemuan itu, Sofyan membantah membahas fee proyek. “Jujur, kami (PLN, Red) nggak pernah diarahkan atau berencana untuk fee-fee itu,” jelasnya.

Selain mencecar soal indikasi pembahasan bagi-bagi fee, jaksa KPK kemarin juga mengonfirmasi beberapa keterangan dan bukti rekaman percakapan yang dilakukan Sofyan dan Eni. Salah satu rekaman yang diputar merupakan percakapan sebelum pertemuan di Hotel Fairmont. Dalam percakapan itu, Eni menyebut nama mantan Menteri Sosial Idrus Marham.

Terkait rekaman tersebut, Sofyan mengaku kalimat Eni yang mengatakan “ini penting juga buat Bang Idrus” tidak berkaitan dengan bagi-bagi fee proyek. Menurut mantan Dirut BRI itu, percakapan itu terkait dengan permintaan 30 unit mobil jenazah yang dibahas sebelumnya dengan Idrus. Mobil itu merupakan permintaan pengurus masjid-masjid yang diusulkan Idrus selaku mensos.

1 2Laman berikutnya
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button