NASIONAL

AJI: Tren Ujaran Kebencian Tinggi di 5 Provinsi Selama Pilkada

×

AJI: Tren Ujaran Kebencian Tinggi di 5 Provinsi Selama Pilkada

Sebarkan artikel ini
Seorang ASN bertanda tangan di spanduk saat Rapat Koordinasi Bawaslu Maros bersama 'pemangku kepentingan saat deklarasi netralitas ASN, antipolitik uang, isu SARA, hoaks dan ujaran kebencian di Hotel Dalton Makassar, Sulawesi Selatan 20-21 Oktober 2024. (Darwin Fatir)
Seorang ASN bertanda tangan di spanduk saat Rapat Koordinasi Bawaslu Maros bersama 'pemangku kepentingan saat deklarasi netralitas ASN, antipolitik uang, isu SARA, hoaks dan ujaran kebencian di Hotel Dalton Makassar, Sulawesi Selatan 20-21 Oktober 2024. (Darwin Fatir)

Dari keseluruhan data tersebut, sebanyak 86,1 persen (164.302 teks) berkaitan dengan Pilkada 2024, dengan 11,23 persen (20.781 teks) di antaranya mengandung ujaran kebencian.

Bank bjb Tandamata

Co-Director Monash Data & Democracy Research Hub, Ika Idris, menjelaskan ujaran kebencian di lima provinsi tersebut didominasi isu agama, akhlak, dan etika.

Isu agama, menurut dia, muncul bukan cuma di daerah yang kandidatnya beda agama, tetapi juga yang agamanya sama. Narasi satu lebih saleh dibanding yang lain sangat mendominasi, seolah patokan utama seorang kandidat adalah kesalehannya.

Ia menyatakan, sentimen terhadap politik dinasti juga muncul sebagai upaya untuk tidak mendukung pasangan calon tertentu. Ada sentimen untuk menolak pasangan-pasangan yang pencalonannya berbasis nepotisme kekeluargaan, dan bukan karena kompetensi mereka.

“Sentimen negatif terkait politik dinasti yang muncul di pilpres dan pileg lalu masih berlanjut mewarnai pilkada. Bahkan ada ajakan-ajakan untuk memilih kotak kosong ke kandidat yang disokong oleh koalisi besar juga menguat,” ujar Ika.(*)