KOTA SUKABUMI

Seni Boles dan Lisung Ngamuk Disisihkan

×

Seni Boles dan Lisung Ngamuk Disisihkan

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI — Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fath sekaligus budayawan Sukabumi, Fajar Laksana mengaku kecewa dengan kegiatan helaran HUT Kota Sukabumi ke-104 yang dilaksanakan pada Kamis (29/3). Sebab, kesenian tradisional asli Sukabumi, Bola Leungeun Seuneu (Boles) dan Lisung Ngamuk tak ditampilkan dalam kegiatan helaran tersebut.

“Saya kecewa kepada panitia karena kesenian dari daerah sendiri tidak ditampilkan, sedangkan kesenian dari daerah lain malah ditampilkan dan mendapatkan apresiasi,” ujar Fajar kepada Radar Sukabumi, kemarin (30/3).

Bank bjb Tandamata

Menurut Fajar, seharusnya Boles dan Lisung Ngamuk ini menjadi perhatian khusus. Terlebih, sudah mengharumkan nama baik Kota Sukabumi dan tampil diberbagai ajang tingkat regional maupun nasional.

“Buktinya, kami mendapatkan berbagai penghargaan dan mengharumkan Kota Sukabumi dikancah nasional. Tapi di Kota Sukabumi, seperti tidak dihargai,” kesalnya.

Padahal kata dia, panitia tidak harus memikirkan biaya untuk menampilkan Boles dan Lisung Ngamuk ini. Bagi dia, yang terpenting anak asuhnya bisa tampil dalam pagelaran tahunan tersebut. Apalagi itu untuk mengenalkan budaya Sunda asli Sukabumi. “Jika tidak ada uang, tidak usah bingung. Kami dipersilahkan tampil juga sudah puas. Terpenting anak-anak bisa tampil,” paparnya.

Sehari sebelum kegiatan sambung dia, Al-Fath ini sudah menyiapkan diri untuk tampil. Tetapi, sampai hari yang ditentukan tidak ada undangan sama sekali. “Kita udah menyiapkan kostum, soundsystem, dan perlengkapan untuk mengikuti helaran. Eh, malah tidak bisa main,” jelasnya.

Fajar menilai, pihak panitia lebih mementingkan budaya luar dalam helaran tersebut ketimbang budaya lokal yang benar-benar nyunda. “Kebudayaan lain yang tidak ada khas Sunda nya malah tampil. Sedangkan kita yang asli budaya Sunda tidak dipersilahkan,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kota Sukabumi, Yudi Yustiawan mengaku, dalam penampilan seni budaya tersebut pihak panitia sudah menyerahkan kepada masing-masing kecamatan untuk menentukan apa yang akan ditampilkan.

“Dan panitia tidak menyeleksi terlebih dulu yang akan ikut tampil dalam perhelatan. Tergantung dari kreativitas masing-masing dalam menggali potensi seni budaya yang berada di wilayah,” singkatnya. (cr16/t)