Sempat Tutup, Rumahkan Karyawan Hingga Jualan Online

  • Whatsapp

Perjuangan Pelaku UKM untuk Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh lapisan dunia, berdampak pada perekonomian masyarakat, khususnya di Kota Sukabumi Jawa Barat. Ironisnya, penyakit yang disebabkan oleh virus severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini pun memukul para pelaku Usaha Kecil Menengah ( UKM) seperti halnya pelaku usaha Mochi Lampion.

Saat covid-19 menyerang Kota Sukabumi, penjualan mochi yang merupakan oleh-oleh khas dari Kota Sukabumi merosot drastis. Pemilik Mochi lampion pun harus berputar otak agar usahanya bisa kembali normal seperti sedia kala.

Bacaan Lainnya

Laporan, Ikbal Zaelani Saptari, Radar Sukabumi

Perjuangan untuk mempertahankan usaha mochi ditengah Pandemi Covid-19 harus begitu ekstra dirasakan oleh pengusaha Mochi Lampion, Nanti Kustriana. Sejak awal tahun pandemi Covid-19 ini hinggap di Indonesia, penjualan mochi lampion begitu drastis sepi peminat. Itu diakibatkan tidak adanya wisatawan yang hadir ke Kota Sukabumi.

Bahkan dalam kondisi tersebut, Nanti terpaksa harus menutup usahanya selama berbulan-bulan. Tak hanya itu, sejumlah karyawan secara terpaksa harus dirumahkan. Karena kondisi penjualan yang semakin tidak jelas pembelinya.

Terlebih usaha oleh oleh khas Sukabumi bergantung kepada kunjungan wisatawan. Baik yang berwisata ke Sukabumi ataupun yang mengunjungi kerabat di luar kota. “Sejak awal kemunculan covid 19, saya terpaksa memberhentikan produksi mochi. Termasuk merumahkan karyawan,” ungkap Nanti.

Namun dengan kondisi pandemi Covid-19 itu Nanti tidak mudah surut, dirinya mencoba melakukan berbagai cara untuk memasarkan prodak Mochi lampionnya. Salah satu caranya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yakni gadget.

Dirinya mempromosikan penjualannya itu lewat media sosial dan sistem penjualannya melalui pesanan online. Bahkan dirinya memanfatkan jasa titip untuk mengantarkan pesanannya yang berada di luar Kota Sukabumi.

“Ya waktu itu, saya harus berputar otak agar penjualan mochi bisa terjual. Saya gunakan jualan online dikirim melalui jasa penitipan. Bagaimana caranya tidak tatap muka tapi yang menginginkan mochi bisa tersampaikan,” jelasnya.

Namun semangat Nanti untuk mempromosikan jualanannya itu bisa mulai kembali sedikit normal. Seiring melandainya covid 19 dan tak ada pembatasan sosial skala besar (PSBB). Bahkan sudah 35 karyawan yang sempat dirumahkan kini kembali mulai bekerja lagi.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada 35 karyawan. Satu persatu kami panggil kembali karyawan yang dirumahkan. Meskipun belum se normal dulu yang mencapai seratus lebih karyawan,” terangnya.

Ditengah Pandemi Covid-19 kata Nanti pihaknya juga menerapkan protokol kesehatan, termasuk para karyawannya. Para karyawan, khususnya di bagian produksi selalu dicek kesehatannya, menjaga jarak, hingga memakai masker.

“Sebagian besar karyawan memang warga sekitar dan tinggal di sini. Namun tetap kami menjaga kesehatannya. Bahkan setiap bulan ada pemeriksaan kesehatan,” paparnya.

Dirinya bersyukur masih bisa bertahan. Sebab bisnis lain banyak yang gulung tikar. “Alhamdulillah usaha oleh oleh ini masih bisa bertahan. Apalagi bagi bisnis yang berpangku kepada wisatawan,” pungkasnya. (*)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *