SUKABUMI – Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath Sukabumi, terus berupaya membantu para korban bencana gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu di Kabupaten Cianjur. Bahkan, aksi kemanusiaan sudah dilakukan selama tujuh bulan dan dijadikan role medel penanganan bencana.
Dalam aksinya, Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi juga menggandeng sejumlah unsur diantaranta, Yayasan Mengetuk Pintu Langit, pemerintah melalui Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Barat. “Salah satunya dengan membuat sebuah role model kewirausahaan.
Role model yang kami inisiasi ini, nantinya akan diserahkan kepada Dinas Sosial Provinsi Jawa barat, dengan skema kewirausahaan,” ungkap Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath, KH. Fajar Laksana, usai melakukan seminar penanganan Pasca Bencana Alam Cianjur, di Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi, belum lama ini.
Lanjut Fajar, konsep kewirausahaan ini sesuai dengan program yang ada di Dinsos dengan Griya Bina Karya sehingga dengan konsep tersebut, korban gempa bumi Cianjur bisa usaha untuk bangkit menjadi mandiri.
“Di sini kami mencoba agar mereka yang terkena bencana gempa bumi kita jembatani kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan usaha,” ujarnya.
Adapun, jenis usahanya seperti keterampilan, dan integrated farming. Misalnya, ternak domba, ikan, magot, dan ayam, atau pun hortikultura. Bisa juga dengan keterampilan sederhana yaitu menjahit atau membuat makana kemasan.
“Bagaimana masyarakat yang terkena dampak bencana itu bisa memiliki usaha sendiri. Makanya, kita lakukan kerjasama dengan pemerintah melalui Dinsos dengan pelayanan sosialnya,” imbuhnya.
Selain itu, sambung Fajar bersama Yayasan Mengetuk Pintu Langit, di lokasi gempa telah mengikuti beberapa program penanganan bencana alam. Mulai dari trauma healing, sekolah alam untuk anak-anak, dan pengajian untuk masyarakat yang terdampak bencana gempa.
“Secara perlahan para donatur juga berdatangan. Dan Alhamdulillah, bersama masyarakat kita bisa membangun masjid yang biayanya hampir mencapai Rp500 juta. Itu semua juga dari para donatur atau pun masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pelayanan Griya Bina Karya Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Teguh Hasbudi mengapresiasi Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi yang telah ikut menangani korban bencana alam gempa di Cianjur. Bahkan, menginformasikan role model yang perlu dikembangkan di Al-Fath ini perlu sporting dari pemerintah. “Tentunya pemerintah bersama masyarakat bekerja sama dalam penangana gempa,” ucapnya.
Menurut Teguh, hal ini menjadi gayung bersambut. Artinya, antara program Dinsos dengan penanangan masyarakat miskin akibat pandemi Covid-19 dan ditimpa bencana alam dalam merecovery masyarakat. Satu di antaranya dengan program pemberdayaan masyarakat dhuafa di Griya Bina Karya.
Tahun ini, akan dimulai pada awal Agustus untuk masyarakat yang sudah diidentifikasi oleh Ponpes Al Fath Sukabumi akan direalisasikan melalui konsep role model. “Jadi, konsep yang dikembangkan di Al-Fath Sukabumi dan yang ada di Dinsos Provinsi Jabar hampir sama. Baik itu budidaya ikan, domba, ayam, dan mencukur,” tukasnya. (bam)






