“Meskipun belum ada penetapan siaga darurat, namun petugas BPBD dan relawan tetap siaga dan waspada menghadapi bencana. Terlebih saat ini intensitas hujan di Sukabumi mulai tinggi. Fenomena ini harus diantisipasi oleh warga dengan meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi bencana terutama banjir dan longsor yang bisa datang tanpa terduga,” bebernya.
Berdasarakan data BPPD, kasus bencana alam di Kota Sukabumi periode Januari hingga September 2017, telah terjadi 112 kali peristiwa bencana alam. Dari ratusan kasus tersebut yang paling mendominasi adalah bencana alam jenis tanah longsor. Selain itu juga turut mendominasi adalah bencana kebakaran, banjir bandang, angin topan, gempa bumi, dan cuaca ekstrem.
“Rinciannya, tanah longsor sebanyak 38 kasus, cuaca ekstrem sebanyak 20 kasus, kebakaran sebanyak 17 kasus, gempa bumi sebanyak 17 kasus, banjir bandang sebanyak 16 kasus, dan angin topan sebanyak empat kasus,” tutupnya.
Wakil Walikota Sukabumi Achmad Fahmi menghimbau warga untuk mewaspadai segala kemungkinan yang akan ditimbulkan oleh alam sepanjang musim penghujan menjelanbg akhir tahun ini. “Setiap gejala akan terjadinya bencana alam, warga harus segera meresponnya dan melaporkan kondisi itu ke pemerintah daerah agar bisa lebih cepat tertangani,” tuturnya. (cr11/d)





