Produktivitas KWT Sauyunan di Kota Sukabumi, Terbentur Ketersediaan Lahan

Kelompok Wanita Tani Sauyunan Kelurahan Babakan
Rumah Bibit Kelompok Wanita Tani Sauyunan Kelurahan Babakan Kecamatan Cibeureum saat memanfaatkan lahan dengan pembibitan sayuran, Rabu (31/8)

CIBEUREUM – Kelompok Wanita Tani Sauyunan Kelurahan Babakan Kecamatan Cibeureum memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan tidur sebagai kebun. Hal itu dilakukan, sebagai salah satu upaya untuk mengaktifkan peran ibu-ibu yang berdomisili di jalan pembangunan RT 3/3 ditengah keterbatasan lahan yang ada.

Lurah Babakan Burhanudin mengatakan, KWT Sauyunan yang sudah berjalan selama 5 tahun ini, keberadaannya menjadi percontohan bagi ibu-ibu di daerah lain di babakan. Sebab, dengan lahan yang ada para ibu-ibu ini masih aktif bercocok tanam.

Bacaan Lainnya

“Saya sangat mengapresiasi ke aktifan ibu-ibu di sini. Potensi pertanian di sini selain padi, juga sorgum. Dan saat ini hasil dari sorgum, sekitar 25 produk turunan dari sorgum sudah menjadi produk olahan yang juga menambah penghasilan ibu-ibu di sini,” ujar Burhan kepada Radar Sukabumi, Rabu (31/8).

Ia mengaku, keterbatasan lahan menjadi kendala di wilayahnya untuk pengembangan pertanian. Padahal sambung dia, potensi yang dimiliki KWT dengan beranggotakan 30 orang wanita tani produktif ini sangat besar, khususnya dari Sorgum yang juga menjadi ikon Kelurahan Babakan Kecamatan Cibeureum.

“Kalau sayuran sepertinya ibu-ibu di sini sudah engga usah beli, karena mereka menanam sayur dan di pekarangan rumah masing-masing. Hanya kalau buat sorgum ini kan butuh lahan yang lumayan luas, pada awalnya kami manfaatkan lahan tidur milik warga lain, tapi saat ini lahan tersebut mau di bangun, jadi terpaksa untuk penanaman sorgum kami pending dulu,” bebernya pada Radar Sukabumi.

Lurah Cibeureum ini mengaku sedang berusaha mencarikan lahan pengganti untuk mendukung kegiatan Kelompok Wanita Tani Sauyunan yang ada di wilayahnya. Dukungan ini disambut ibu-ibu di KWT Sauyunan, salah satunya Nurhayati (36).

“Produk yang kami buat berbahan dasar Sorgum ini menambah penghasilan kami, ada banyak produk makanan yang kami buat diantaranya brownies, peyek, puding, sosuke, dan banyak lagi,” ungkap Nurhayati.

Selain bertani, Kelompok Wanita Tani Sauyunan juga mengerjakan pesanan snack berbahan sorgum. “Selain sorgum saat ini kami juga sedang melakukan Inovasi berbahan dasar sayur, dan untuk sayuran yang kami tanam saat ini alhamdulilah sudah dapat di terima di pasar, dan sangat membantu keuangan kami juga,”sambungnya.

Sementara itu Analis Ketahanan Pangan bidang Ketahanan Pangan, di BP3K (Dinas Pertanian Peternakan Perikanan dan Ketahanan Pangan), Kota Sukabumi, Endang Kusdarini mengatakan bahwa apa yang di lakukan ibu-ibu di KWT Sauyunan Babakan Cibeureum ini sudah tepat dan patut di apresiasi.

“Terkait ketahanan pangan tentunya sorgum ini menjadi alternatif makanan pokok selain beras, dan sesuai arahan pemerintah pusat bahwa saat ini kita harus mencari alternatif. Meski saat ini kita sudah tidak mengimport beras, namun ternyata kita masih mengimport terigu. Dan sorgum ini dengan beberapa produk turunannya dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut,”ungkap Endang pada Radar Sukabumi.

Dinas BP3K yang diwakili Endang Kusdarini ini juga menyampaikan bahwa Kota Sukabumi sudah memiliki Peraturan Daerah (PERDA) tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan itu tercantum dalam Perda Kota Sukabumi No. 1 tahun 2016.

“Ibu-ibu di Kelompok Wanita Tani Sauyunan ini sangat aktif dan partisipasif ketika diberikan penyuluhan dan pelatihan. Dan intinya dari pihak pemerintah sangat mendukung keberadaan ibu ibu ini, meskipun terbentur beberapa kendala. Dan kami pun sangat mengapresiasi, semoga apa yang menjadi keluhan ibu-ibu di sini terkait lahan segera ada solusinya,”pungkas Endang. (cr3/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.