CIKOLE – Pendidikan dan pelatihan vokasi berbasis ekonomi digital yang disebut Sukabumi go Digital (SGD) angkatan IX resmi ditutup, di salah satu hotel di kecamatan Cikole, Rabu (16/17).
Kegiatan yang diikuti sebanyak 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Sukabumi ini, dimotori Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi.
Sekretaris Diskumindag Kota Sukabumi, Asep Yoni mengatakan, kegiatan pelatihan ini diberikan bagi yang usahanya sudah berjalan minimal satu tahun. Hal ini karena memang yang disyaratkan dalam pendaftaran adalah yang memiliki usaha.
“Kami terus berupaya dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia pelaku UMKM di wilayah Kota Sukabumi. Hal ini sejalan dengan visi dan misi walikota Sukabumi yaitu meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan menjadi manusia mandiri, unggul, dan kreatif, inovatif, terampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” imbuh Asep.
Kegiatan ini juga terang Asep, sebagai bentuk kolaborasi Pemda Provinsi Jabar dengan Pemkot Sukabumi serta pihak lain dalam mewuhudkan Kota Sukabumi yang religius, nyaman, dan sejahtera.
Pelatihan digital marketing akan membantu pelaku UMKM dalam menguasi skill dasar dan konsep digital marketing. “Digital marketing merupakan skil yang paling dibutuhkan pada era digital sekarang ini.
Melalui pelatihan digital marketing akan mempelajari cara untuk menentukam bisnis daring dalam melakukan aktivitas pemasaran digital,” ungkap Asep.
Asep berharap, peserta sebanyak 50 orang pelaku UMKM ini, dapat memanfaatkan pelatihan dengan baik. Meyakini pelatihan dapat meningkatkan inovasi dan kreativitas di berbagai situasi di masa depan.
Di tempat terpisah, Kepala Bidang Koperasi dan Usaha Mikro Diskumindag Kota Sukabumi Agus Mulyana mengatakan, pelatihan ini menjadi bukti kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk bantu UMKM agar berdaya dan berkontribusi pada perekonomian.
UMKM memberikan kesempatan mendapatkan pekerjaan ketika ada penghasilan maka ada kesejahteraan. Contohnya kata dia, di Kota Sukabumi ada sekitar 31 ribu UMKM. Ketika satu UMKM mempekerjakan satu orang, maka ada 31 ribu orang pekerja.
Oleh karenanya terang Agus, perhatian kepada UMKM harus dilakukan karena kontribusinya cukup besar pada perekonomian. Namun bukan hanya jumlah UMKM, tapi bagaimana pelaku UMKM unggul dari sisi kualitasnya.
“Tantangannya, kalau dulu membeli barang datang ke toko, sekarang melalui online. Sehingga bagaimana barang dijual secara online dan konsumen memiliki ketertarikan untuk membelinya,” terang dia.
Selama tiga hari pelatihan ini lanjut Agus, para pelaku UMKM diberikan konsep dasar menjual online. Ia berpesan manfaatkan waktu singkat tersebut dalam mendapatkan ilmu dan dapat diimplementasikan. “Harus ada dampak dirasakan setelah mengikuti pelatihan bukan sekedar ikut-ikutan saja. Pelatihan ini kesempatan dalam meningkatkan kemampuan menjual online,” tambah Agus.
Sementara itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Diskumindag Kota Sukabumi Martin Wahyudi menambahkan, para pelaku UMKM ini diberikan pemahaman untuk mengubah mindset atau cara berpikir tentang penjualan produknya. Sehingga pelaku UMKM memahami pentingnya pemasaran digital di era sekarang ini.
“Dalam momen ini diberikan dasar perubahan mindset dari produk oriented jadi market oriented. Di mana, sebelum membuat produk pelaku usaha harusnya survei pasar untuk membuat produk sesuai kebutuhan dan harapan konsumen,” ujar Martin.
Jangan sampai kata dia, membuat produk baru mencari pasar. Kedua pelatihan ini ingin mengubah mindset asalnya jualam offline menjadi online melalui sosial media baik TikTok dan Shopee. Awalnya lanjut Martin, TikTok berkonotasi negatif kini jadi market place. Sebab banyak pelaku UMKM berhasil dengan menggunakan TikTok.
Martin menuturkan, pendidikan vokasi ini bersumber dari pendanaan kompetif provinsi Jabar. Pelatihan berbasis ekonomi digital ini mengajarkan cara penjualan online melalui aplikasi Shopee dan TikTok.
Harapannya terang Martin, pelaku UMKM punya toko online di sana. Sehingga pelaku UMKM dilatih dengan TikTok dan semua peserta gelombang pertama dan kedua kali ini memiliki akun TikTok dan mengetahui bagaiman berjualan secara online.
“Hingga saat ini sudah 450 pelaku UMKM yang mengikuti pelatihan dari 9 angkatan. Tinggal satu angkatan lagi yang Insya Allah akan dilaksanakan pekan depan,” tambahnya.
Adapun lanjut Martin, Jenis usaha pelaku UMKM mulai kuliner, kerajinan, fashion dan semua usaha bisa jualan online dan bagi yang tidak bisa di TikTok bisa di Shopee. (why)






