“Jalannya sudah banyak yang rusak, jadi pembeli pun makin ogah masuk ke sini, semoga pemerintah lebih memperhatikan pasar penampungan ini apakah itu jalur transportasinya, atau mungkin sistemnya pemerintah lebih tau bagaimana caranya pasar itu supaya ramai,”ungkapnya.
Dirinya menjelaskan, sepinya pembeli terjadi sejak pengalihan kios ke pasar penampungan karena Pasar Pelita dibangun. Awalnya Syukron dan teman-teman sesama pedagang mengaku sangat antusias menempati pasar penampungan itu.
“Di bulan pertama sampai berikutnya pembeli kurang, para pedagang jadi gak bisa bertahan lama,”bebernya.
Lama kelamaan, masih kata Syukron, ratusan pedagang lainnya meninggalkan pasar penampungan tersebut.
“Ada yang buka tempat usaha di rumah tinggalnya, ada juga yang mengontrak di toko-toko kawasan Jalan Stasiun Timur bahkan ada juga yang sama sekali tidak buka usaha lagi,”terangnya.
Karena sepinya konsumen, omzet Syukron makin berkurang.
“Justru itu para pedagang enggan menempatinya karena omsetnya kurang, Saya sendiri Alhamdulillah bisa bertahan dengan pelanggan yang tetap,”ulas Syukron yang juga menyebut perkembangan usaha di pasar penampungan ini cukup lamban.
Meski begitu, dirinya dan perkumpulan pedagang lain tidak memungkiri sempat mengusulkan kepada walikota untuk meminta dicarikan tempat lain karena sepinya pembeli. Namun hasilnya pun sama, yaitu omset penjualannya yang menurun.
Sementara itu, Yadi Suryadi (52), Ketua RT 02/RW 04 Kelurahan Tipar, Kecamatan Citamiang menjelaskan, sejak diresmikan penggunaannya hingga sekarang, kios-kios yang disediakan banyak yang tidak diisi pedagang.
“Kios yang disediakan pemerintah itu kurang lebih ada 680 kios, namun sekarang yang ditempati ada sekitar 50-60 kios,”tutur Yadi.
Di singgung soal keamanan, dirinya mengaku di pasar penampungan sudah dijaga oleh petugas keamanan pasar.
“Kemananan ada satgas yang mengamankan, mereka mulai bertugas dari jam 20.00 sampai 5.00 WIB,”urainya.(Cr18/t/sri)



