“Selama tiga bulan benih tersebut mampu tumbuh hingga ukuran 200-250 gram perekor,” terangnya.
Slamet menambahkan, teknologi bioflok ini pun sebagai antisipasi terjadinya fenomena perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan global yang menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan. Apalagi, adanya regulasi penertiban keramba jaring apung (KJA) di perairan umum seperti danau, waduk dan lainnya. Sehingga teknologi bioflok ini dapat menjadi solusi bagi pembudidaya ikan yang selama ini mengandalkan perairan umum sebagai tempat berbudidaya ikan Nila sebagai komoditas utamanya.
“Teknologi bioflok sangat ramah lingkungan. Apalagi sistem bioflok init idak berbau sehingga tidak mengganggu sistem lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman,” imbuhnya.
Terkait pengembangan di masyarakat, Slamet menyampaikan bahwa sebagaimana untuk ikan lele yang saat ini sudah sangat populer, budidaya ikan Nila sistem bioflok juga akan didorong pengembangannya di pesantren-pesantren dan kelompok masyarakat lainnya, serta di daerah-daerah terpencil, perbatasan dan potensial.
(why)




