Dinkes Kota Sukabumi Angkat Bicara Soal Bayi Meninggal Pasca Imunisasi

drg. Wita Darmawanti
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, drg. Wita Darmawanti saat diwawancara Radar Sukabumi di ruang kerjanya, Senin (6/2).

SUKABUMI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, angkat bicara soal meninggalnya bayi laki-laki berusia tiga bulan yabg diduga setalah disuntik imunisasi BCG, DPT dan pemberian Polio serta Rotavirus di wilayah Kecamatan Warudoyong.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, drg. Wita Darmawanti mengatakan, insiden terjadi pada Selasa (11/6/2024) lalu di Puskesmas wilayah Kelurahan Sukakarya. Kenzie lahir pada 14 Maret 2024 dan meninggal dunia pada 11 Juni 2024. Diduga Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Bacaan Lainnya

Sejauh ini, Dinkes sudah memintai keterangan baik dari orang tua maupun dokter dan tenaga kesehatan yang menangani korban.

“Ada yang benar dan ada yang kurang, kalau kronologinya ini versi tanya jawab kita kepada keluarga dan petugas di lapangan karena saat kejadian saya tidak ada di TKP,” kata Wita kepada wartawan, belum lama ini.

Wita menjelaskan, Kenzie merupakan anak kedua dari pasangan suami istri Isan Nur Arifin (27) dan Deara Wulandari (27). Pada anak pertama yang berusia 5 tahun, orang tuanya menyebut tidak ada KIPI dan mereka mengetahui jika imunisasi dilakukan untuk memberi kekebalan tubuh pada anak.

“Pada saat datang ke Puskesmas Sukakarya dokter memeriksa keadaan anak dan dinyatakan sehat. Kemudian anaknya memang usianya sudah 2 bulan lebih 28 hari,” ujarnya.

Sama seperti di daerah lain, imunisasi yang merupakan program nasional ini dilakukan sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis. Kondisi korban saat itu, sehat namun imunisasi BCG belum diterima sehingga dilakukan imunisasi ganda dengan DPT.

“Dikhawatirkan kalau tidak lengkap maka terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) suatu saat gitu kan ya. Program pusat itu ingin melindungi anak-anak dari penyakit yang bisa dicegah imunisasi,” paparnya.

Kemudian, sambung Wita, dilakukan imunisasi sesuai dengan usia dan sesuai dengan juklas juknisnya apabila terlewat harus dilakukan apa saja.

“Dilakukan pemberian vaksinasi BCG di lengan kanan, kemudian ditetes polio itu sudah sesuai, kemudian disuntikkan di paha DPT kemudian diberi Rotavirus, tetes juga berarti disuntiknya dua kali BCG dan DPT kombinasi seperti itu,” ucapnya.

Setelah mendapatkan vaksin tersebut, ibu dan bayi pulang ke rumahnya. Jika terjadi demam, maka diberikan resep obat. Ketika pulang, bayi dalam kondisi baik dan sempat diberikan ASI hingga tidur.

“Setelah bangun, bayi nangis ingin menyusui, setelah itu saya juga bertanya, itu setelah menyusui seperti apa. Intinya setelah menyusui itu si ibu merasakan kok tiba-tiba si bayi melemah suara tangisannya. Setelah melemah, telepon ke bidan kayak kejang suaranya hilang,” bebernya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *