Tak kalah penting, BRIN juga mengkaji sejumlah naskah kuno yang ditulis dalam aksara Arab, Pegon, Jawa, dan Latin. Naskah-naskah tersebut memuat ajaran Islam, sastra, astrologi, hingga historiografi tradisional Cirebon-Priangan. “Ini mencerminkan tingginya kapasitas intelektual masyarakat masa itu dan luasnya jaringan pengetahuan mereka,” imbuh Fajar.
Ia menegaskan, seminar ini menjadi langkah awal untuk memperkuat literasi sejarah, mendorong penetapan Gunung Tangkil sebagai cagar budaya, serta menjadikan Museum Prabu Siliwangi sebagai pusat riset warisan peradaban lokal.(bam/d)






