Padepokan Dadali Pati telah tampil di berbagai daerah, dari Bandung hingga Bali, bahkan menembus panggung internasional di Brunei dan India. Namun bagi Bah Alam, panggung bukan tujuan utama. “Saya ingin debus tetap di jalurnya. Jangan sampai melenceng. Dulu untuk syiar agama dan melawan penjajah, sekarang kita jaga supaya tetap punya ruh itu,” tegasnya.
Di tengah dunia modern, debus mungkin terlihat sebagai sisa masa lalu. Namun di tangan Bah Alam, ia tetap menjadi napas tradisi yang hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(ris/d)




