Belajar Bahagia Bareng Keluarga Saat Pendemi

  • Whatsapp

Oleh Rati Badriyati
Psikolog RSI Assyifa

Bismillahirrahmaanirrahim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bacaan Lainnya

Saat banyak notifikasi dari Handphone, khususnya dari group belajar dan kelasroom putra putri kita. Tugas di tempat kerja bagi orang tua yang bekerja, dan ibu rumah tangga yang tentunya banyak tugas rumah yang senantiasa harus diselesaikan segera.

Begitu banyak informasi yang diperoleh yang tentunya membuat pusing dan sakit kepala, begitu banyak pikiran dalam benak kita yang menuntut segera dilaksanakan. Pembelajaran melalui daring,luring dengan tanpa tatap muka bahkan membuat kondisi emosi para orang tua menjadi labil atau bahkan turun naik yang membuat jantung berdebar atau bahkan sakit kepala.

Tidak sedikit orang tua terutama ibunya atau sering disebut mom’s atau mamah atau bundanya, ini membuat gelisah dan cemas, baik bagi yang bekerja maupun tidak bekerja.

Dengan cemas gelisah karena berasumsi dan memandang ‘jangan-jangan anak belum mengerajakan tugasnya dan jangan-jangan anaknya sedang nonton youtube sedang pegang hp bukannya belajar bahkan sekedar main game dan nonton.

Kondisi diatas membuat stress. Stres adalah reaksi fisik dan psikologis yang bersifat individual terhadap tuntutan yang mencapai atau melampaui kemampuan coping individu. Reaksi dan respon muncul berbeda –beda setiap orang nya. Stress itu identik dengan tuntutan “segera”dan ‘pemaksaan”.

Artinya jika ada orang tua dan anak yang berkata dan berperilaku ada pemaksaan itu bisa dikatakan sedang mengalami stress. Perasaan tidak suka, gelisah dan merasa dipaksa dan segera, ini dinamakan stress.

Kebalikan dari stress adalah Happy atau bahagia, it bentuk rekasi orang tua berusaha membuat di rumah enjoy dan bahagia dengan mensyukuri apapun yang putra-putri nya lakukan dengan enjoy, namun disini kami sebagai orang tua memberikan perubahan dalam perilaku dan sikap di rumah.

Perubahan perilaku ini terkesan akan membutuhkan waktu lama dalam menyesuaikannya. Hal ini akan menjadi mudah dan cepat bagi ayahbunda yang mau mencoba menjadi lebih baik dan bahagia. Kunci perubahan menuju bahagia atau belajar bahagia bersama keluarga, mulai dari kontrol diri,salah satunya dengan aturan yang diciptakan dalam keluarga atas kesepakatan seluruh anggota keluarga yaitu ayah, ibu, dan anak-anak.

idak sebatas aturan yang diberikan ayah atau ibunya saja. Artinya lakukan diskusi atau obrolan kecil antara orang tua dan anak.

Misalnya perilaku solat, kadang anak susah disuruh solat. Mulai lah dengan gerakan solat berjamaah. Maksud tujuan adanya aturan dijalankan secara kontinyu dan konsisten. Bukan sebatas ada hukuman dan reard atau ganjaran. Dan melatih kedisplinan.

Kunci kebahagian berikut adalah memahami potensi dan minatnya apa yang diinginkan anak dan kenyamanan dalam memfasilitasi pada saat pembelajaran yang ersifat daring. Memahai karakter dan potensi anggota keluarga, agar tumbuh berkembang rasa penghargaan pada diri sendiri setiap anggota.

Bukan sekedar mempengaruhi satu sama lain menjadi lebih baik. Tujuan, menghargai diri masing masing agar mencapai kebahagian bersama sekeluarga. Misalnya, jika kita mudah percaya pada anak, bukan sekedar percaya dengan potensi yang dimilikinya, tapi berusaha kita sebagai orang tua percaya pada diri sudah berperan sebagai orang tua.

Agar menjadi bahagia, pahami karakter anak tidak atau hindari kata-kata men “judge” atau me”label”. Misalnya;’tuh kan kamu bohong, kapan coba mamah lihat kau sholat, “masa sih begitu saja tidak bisa”.

Berusaha untuk percaya terhadap anak, meskipun kita tahu dan merasa bahwa anak kita berbohong. Hal ini akan lebih memunculkan rasa percaya diri karena anak dihargai sikap dan perilakunya, meskipun kata-kata kita sebagai orang tua apa adanya.

Biasanya orang tua bicara “kamunya ceroboh kali”,coba ingat-ingat dimana HPnya. “main game terus, kapan belajarnya?.

Kata-kata seperti ini sebenarnya kalimat yang sebenarnya orang tua yang belum belajar menghargai anaknya. Kata-kata (“kamunya ceroboh kali”,coba ingat-ingat dimana HPnya.

“main game terus, kapan belajarnya?), secara psikologis menjatuhkan harga diri anak, diamaknai “ceroboh” ini kata negative, dan label “ diri yang sering main game” dimaknai anak suatu kegiatan diri anak yang mendapatkan nilai buruk, padahal anak sendiri sebenarnya ingin terlihat baik bagi orang tuanya.

Coba lah untuk berusaha menerima anak sering main game, atau kalau bisa orang tua berusaha encoba merasakan bagaimana main game itu sehingga diri anak sampai dengan addiction.

Hal ini agar kita sebagai orang tua pun untuk memahami anak karena diri kit pun memahami diri kita sendiri bagaimana sepantasnya berperan dan berperilaku bagi anak.

Wujudnya keluarga bahagia kita akan dapat merasakan kebahagian sendiri perlu adanya interaksi anatara anggota keluarga, dalam berinteraksi ini tentunya terjalin komunikasi dan dalam komunikasi tersebut akan terjadi proses belajar untuk bisa merubah perilaku bersifat permanen.

Perubahan menjadi keluarga bahagia bukan untuk perorangan dalam keluarga tapi adanya penyebaran rasa bahagia yang diresapi pada setiap anggota keluarga tersebut.

Saat kita belajar, tujuannya adalah kebahagiaan, dan kebahagiannya didasari cinta yang kita sebarkan pada sendi-sendi aspek psikologis pada setiap anggota keluarga, dengan merubah perilaku atau kegiatan atau aktivitas di rumah, dengan adanya kesepakatan aturan yang diberikan dalam diskusi dengan anak dan orang tua. Terimakasih banyak, semoga bermanfaat. (*)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *