“Biasanya para pelajar suka digendong orang tuanya melintasi sungai itu. Kalau kondisinya tengah meluap, kami terpaksa menggunakan jalan yang cukup jauh itu. Intinya kami berharap ada jembatan untuk aktivitas sehari-hari,” imbuhnya seraya berharap.
Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman menjelaskan, pihaknya merasa prihatin atas nasib warga yang harus berjuang menerjang sungai demi bisa menuntut ilmu dan mendistribusikan hasil pertaniannya ke pasar.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, pukul 03.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB sungai bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Namun bila lewat pukul 13.00 WIB, air laut pasang hingga naik ke permukaan. “Kalau sudah pasang, warga tidak berani melintasinya, karena ketinggian air bisa mencapai 2 meter. Atas kondisi ini, tentu kami sangat prihatin,” katanya.
Eka mengaku, warga berharap kepada pemerintah agar segera membangunkan jembatan permenen menghubungkan Desa Sukatani, Kecamtan Surade dengan Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung. Karena, setelah jembatan putus, bertahun-tahun warga mengirimkan hasil taninya lewat darat dengan menempuh jarak cukup jauh.
Padahal, jika ada jembatan, warga tidak perlu jauh-jauh memutar jalan dengan jarak sekitar 5 Km. “Tentu ini kewenangannya bukan di BPBD, melainkan di instansi lain,” tandasnya. “Tidak hanya anak-anak yang akan berangkat sekolah yang terhambat, tapi juga perekonomian masyarakat terganggu,” tambahnya. (cr13/t)





