SUKABUMI – Potret kepedulian sekaligus keprihatinan terlihat di ruas Jalan Kilometer 2 Cisolok–Cipanas, tepatnya di Kampung Gunung Geulis, Desa Cisolok, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Warga setempat memilih bergerak sendiri memperbaiki jalan rusak parah yang selama ini dikeluhkan pengguna jalan.
Dengan semangat gotong royong, warga melakukan kegiatan “nyaeur” atau penambalan jalan berlubang yang kondisinya kian membahayakan. Aktivitas ini murni inisiatif masyarakat tanpa bantuan pihak manapun. “Ini kegiatan nyaeur jalan, memperbaiki jalan yang rusak. Kondisinya memang sudah harus segera diperbaiki,” ujar Yusuf Supriadi, warga setempat.
Menurut Yusuf, kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan berarti. Warga sempat mengajukan permohonan perbaikan kepada dinas terkait sejak Agustus 2025, namun hingga kini belum ada realisasi. “Sudah lebih dari satu tahun rusak. Dulu kami juga pernah bergerak memperbaiki secara swadaya, tapi karena kerusakannya semakin parah, sekarang kami lakukan lagi,” jelasnya.
Kerusakan jalan membuat aktivitas pengguna terganggu. Kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas, bahkan beberapa pengendara terpaksa turun dari motor demi menghindari risiko terjatuh. “Mobil saja ada yang tidak kuat nanjak. Motor juga banyak yang hampir jatuh, bahkan sudah banyak kejadian kecelakaan, terutama anak sekolah,” tambah Yusuf.
Setiap pagi, ribuan pelajar menuju sekolah di wilayah Cisolok harus melewati jalur tersebut. Untuk memperbaiki jalan, warga menggunakan material seperti beskos, pasir, dan semen yang diperoleh dari hasil patungan. Beberapa tokoh masyarakat turut menyumbangkan bahan bangunan. “Kita patungan, tidak ada bantuan dari mana pun. Ini murni dari warga yang peduli agar jalan bisa dilalui dengan aman,” katanya.
Ironisnya, jalan tersebut merupakan akses utama menuju destinasi wisata Geyser Cisolok, salah satu ikon wisata unggulan Kabupaten Sukabumi. Kondisi jalan rusak berdampak langsung pada sektor pariwisata, membuat wisatawan enggan berkunjung. “Pengaruhnya sangat besar. Wisatawan jadi malas datang. Dampaknya terasa sampai ke pedagang karena pengunjung berkurang,” terang Yusuf.






