SUKABUMI – Beredarnya video seorang konten kreator asal Sukabumi yang menampilkan aktivitas wisata di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) bersama sejumlah tokoh agama menuai sorotan dan memicu keresahan warga.
Video tersebut memuat klaim adanya dukungan ulama terhadap pembukaan wisata di Blok Cangkuang, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Lokasi ini menjadi perhatian serius masyarakat karena berdekatan dengan area perusakan hutan dan dugaan penebangan liar.
Konten kreator bernama Mang Kifli menyebut kegiatan wisata itu mendapat restu tokoh agama. Namun klaim tersebut justru memantik kemarahan warga yang khawatir terhadap ancaman bencana ekologis akibat kerusakan hutan. Video yang diunggah Sabtu lalu cepat menyebar, sebelum akhirnya hilang dari akun media sosial pada Minggu (14/12/2025).
Tim Advokasi Warga Cidahu, Rozak Daud, menilai pembukaan wisata di kawasan hutan dan perkebunan bertentangan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang menekankan perlindungan lingkungan hidup. Ia merujuk pada Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 26/PM.05.02/PEREK (Maret 2025) dan Nomor 180.HUB.03.08.02/PERKIM (Desember 2025) yang menegaskan penghentian izin pemanfaatan kawasan hutan dan perkebunan.
Rozak juga meluruskan klaim soal status tanah enclave. Menurutnya, tanah enclave dari bekas HGU diperuntukkan sebagai cadangan negara, kepentingan umum, atau Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), bukan untuk dikelola sebagai tempat wisata. Ia mendesak aparat penegak hukum menelusuri dasar pengelolaan wisata, mulai dari perizinan hingga kesesuaian dengan aturan pemanfaatan kawasan hutan.
Tokoh warga Cidahu, Rohadi (50), menyayangkan klaim dukungan ulama tersebut. Ia menilai kondisi riil di Blok Cangkuang justru menunjukkan pembabatan lahan dan penebangan pohon masif, termasuk pohon hasil program penghijauan puluhan tahun silam. Dalam dua tahun terakhir, kerusakan hutan semakin parah dengan penebangan berbagai jenis pohon bernilai ekologis tinggi.
Dampaknya, debit air bersih di Desa Cidahu, Jayabakti, dan Pondokaso menurun drastis, sementara kualitas air memburuk. Warga juga mengingat banjir bandang Oktober 2022 di Pondokaso akibat meluapnya Sungai Cibojong yang membawa lumpur dan material kayu dari kawasan Gunung Salak.





