Soal Fenomena Kerajaan, Ini Komentar Sejarawan Sukabumi

Irman Firmansyah Sejarawan Sukabumi
Irman Firmansyah Sejarawan Sukabumi

SUKABUMI – Munculnya fenomena kerajaan hingga klaim memiliki harta karun cukup menyita perhatian berbagai kalangan masyarakat kurun waktu belakangan ini. Termasuk King Of The King, yang belum lama ini kehadirannya menggegerkan warga Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi.

Fenomena tersebut di soroti salah satu sejarawan Sukabumi, Irman Firmansyah yang juga merupakan Ketua Yayasan Dapuran Kipahare. Menurutnya, fenomena kerajaan baru dan harta bung karno merupakan refleksi persoalan psikologis dan sosial sebagian masyarakat. Persoalan ini berupa kekecewaan dan kehilangan harapan dimasa depan.

Bacaan Lainnya

“Dimasa kolonial muncul istilah ratu adil atau mahdiisme berupa harapan penyelamat dari kondisi sosial politik yang terjajah, dimasa merdeka fenomena ini muncul seiring dengan keinginan hidup adil makmur,” jelas pria sejarawan ini kepada Radar Sukabumi, Minggu (2/2).

Kondisi ini, lanjut, dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya motif baik politik maupun ekonomi. Mereka menawarkan harapan dan perubahan dan melegitimasi dirinya dengan keagungan masa lalu hingga kehebatan yang sifatnya diluar nalar.

“Delusi keagungan ini selalu dihubungkan dengan sejarah masa lalu, hal ini disebabkan kelemahan sejarah empirik masyarakat. Hingga kini masih banyak masyarakat yang menyukai bahkan menganggap kebenaran terhadap kisah-kisah masa lampau yang tak berdasar.

Selain itu, karena minimnya literatur maka sejarah menjadi gelap, seolah sangat jauh, tidak terukur, dan tak diketahui kebenarannya. Apalagi, jika dihubungkan dengan mistik, kegaiban, kesaktian yang tak bisa dipertanyakan akal.

“Hingga kini kita masih beranggapan bahwa orang orang jaman dulu sakti sakti, angker akibat minimnya literatur, hanya berdasarkan katanya dan asumsi,” ujarnya.

Para tokoh delusioner ini, Kepala Riset dan Kesejarahan Seokabumi Heritage ini, akhirnya leluasa membuat kisah-kisah rekaan yang tidak berdasarkan fakta dan mengklaimnya sebagai sejarah, atau berlindung dalam istilah historiografi tradisi, padahal sekedar pseudo sejarah.

“Bahkan sebagian mengaku mendapat wangsit, bisikan leluhur, membuat artefak artefak palsu dll supaya dipercaya. Para pengikut ada merasakan sebagai penawar kerinduan akan romantisme masa lalu sehingga tanpa nalar kritis menerima begitu saja.

Menurutnya, sebagian memang berpengetahuan sempit sehingga menganggap informasi terhadap hal yang tak diketahuinya adalah benar. Maka tidak heran muncul kerajaan-kerajaan fiktif.

“Kisah-kisah Bung Karno yang seolah masih hidup, atau harta karunnya yang bisa diambil. Motif ini mengarah pada pola jalan pintas, ingin untung dengan cara enteng,” sebutnya.

Dirinya menilai, Inilah pentingnya sosialisasi sejarah secara empirik, sehingga sejarah bukan lagi mitos tapi logis. Maka sejarah akan dirasakan dekat dan terang benderang, tak akan ada lagi manipulasi dan indoktrinasi kehebatan personal.

“Sejarah kerajaan maupun kehebayan bung karno merupakan fakta yang bisa diangkat untuk memproyeksikan masyarakat, bukan dibangkitkan secara harafiah. Menggali sejarah bukanlah kembali ke masa lalu, tapi justru menjadi pembelajaran untuk perbaikan dimasa depan,” pungkasnya. (upi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.